HUBUNGAN ANTARA JARAK HYOMENTAL DENGAN MENGGUNAKAN ULTRASONOGRAFI DAN JARAK THYROMENTAL PRAOPERATIF SEBAGAI PREDIKTOR KESULITAN LARINGOSKOPI LANGSUNG = Association Between Ultrasonographic Hyomental Distance and Preoperative Thyromental Distance as Predictors of Difficult Direct Laryngoscopy


KAHARUDIN, KAHARUDIN (2026) HUBUNGAN ANTARA JARAK HYOMENTAL DENGAN MENGGUNAKAN ULTRASONOGRAFI DAN JARAK THYROMENTAL PRAOPERATIF SEBAGAI PREDIKTOR KESULITAN LARINGOSKOPI LANGSUNG = Association Between Ultrasonographic Hyomental Distance and Preoperative Thyromental Distance as Predictors of Difficult Direct Laryngoscopy. Sp thesis, Universitas Hasanunddin.

[thumbnail of C135212007-1-2.pdf] Text
C135212007-1-2.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of C135212007-40ZjyoPK3ktUwEvW-20260707121413.png] Image
C135212007-40ZjyoPK3ktUwEvW-20260707121413.png

Download (163kB)
[thumbnail of C135212007-dp.pdf] Text
C135212007-dp.pdf

Download (124kB)
[thumbnail of C135212007-fulll.pdf] Text
C135212007-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract (Abstrak)

Pendahuluan: Laringoskopi sulit merupakan tantangan dalam praktik anestesi karena dapat meningkatkan risiko komplikasi akibat kegagalan manajemen jalan napas. Evaluasi pra-operatif menggunakan parameter anatomi seperti jarak hyomental (Hyomental Distance/HMD) dan jarak thyromental (Thyromental Distance/TMD) berpotensi membantu memprediksi kesulitan intubasi secara lebih akurat. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan jarak hyomental dan jarak thyromental pra-operatif terhadap insiden laringoskopi langsung sulit serta menentukan nilai sensitivitas dan spesifisitasnya. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain prospektif yang dilakukan pada pasien yang menjalani anestesi umum dengan intubasi endotrakeal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo periode Oktober–November 2025. Pengukuran HMD dilakukan menggunakan ultrasonografi pada posisi netral, sniffing, dan ekstensi, serta serta mengutung rasio hyomental (HMDR), sedangkan TMD diukur secara klinis menggunakan metode standar. Derajat kesulitan laringoskopi dinilai berdasarkan klasifikasi Cormack–Lehane. Analisis statistik dilakukan untuk menilai hubungan serta menentukan akurasi diagnostik masing-masing parameter. Hasil Penelitian: HMD dan TMD secara signifikan lebih pendek pada kelompok laringoskopi sulit (p<0,001). Cut-off HMD netral ≤4,25 cm menunjukkan sensitivitas 90% dan spesifisitas 100%; HMD sniffing ≤4,75 cm dan HMD ekstensi ≤5,25 cm masing-masing memiliki sensitivitas dan spesifisitas 100%; HMDR ≤1,15 memiliki sensitivitas 80,0% dan spesifisitas 85,4%; sedangkan TMD ≤7,55 cm menunjukkan sensitivitas 100% dan spesifisitas 97,6%. Kesimpulan: Pemendekan jarak hyomental dan jarak thyromental pra-operatif berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko laringoskopi langsung sulit dengan akurasi diagnostik yang baik, sehingga berpotensi digunakan sebagai prediktor dalam evaluasi jalan napas pra-anestesi.

Item Type: Thesis (Sp)
Uncontrolled Keywords: Jalan nafas sulit, jarak hyomental, jarak thyromental, laringoskopi, ultrasonography
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > PPDS Anestesiologi
Depositing User: - Andi Anna
Date Deposited: 01 Oct 2026 06:20
Last Modified: 01 Oct 2026 06:20
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58652

Actions (login required)

View Item
View Item