KAUNANG, ARIELLA TRI PUTRI (2026) Hubungan Digital Demand dan Burnout yang Dimediasi oleh Technostress pada Pekerja di Kota Makassar=The Relationship Between Digital Demand and Burnout Mediated by Technostress Among Workers in Makassar City. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
C021221064-nEK2ZU5lXB9vYxsJ-20260311114033.jpg
Download (343kB)
C021221064-1-2.pdf
Download (260kB)
C021221064-dp.pdf
Download (151kB)
C021221064-fulllll.pdf
Restricted to Repository staff only until 9 March 2028.
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Revolusi Industri 4.0 mengintegrasikan teknologi digital dalam dunia kerja yang menciptakan digital demand bagi pekerja. Digital demand mengacu pada tuntutan kerja yang berasal dari penggunaan teknologi digital secara intensif, seperti keharusan merespons pesan dengan cepat dan tetap terhubung di luar jam kerja. Ketidakmampuan individu dalam beradaptasi dengan digital demand dapat memicu technostress, yaitu bentuk stres yang timbul akibat penggunaan teknologi. Technostress yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi burnout, suatu kondisi kelelahan psikologis yang ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi. Berdasarkan Job Demands-Resources Theory, burnout terjadi ketika demand tinggi tidak diimbangi dengan resources yang memadai. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa digital demand dapat meningkatkan technostress dan technostress berkontribusi terhadap burnout, penelitian yang secara khusus mengkaji peran mediasi technostress dalam hubungan antara digital demand dan burnout masih sangat terbatas, khususnya di Indonesia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara digital demand dan burnout melalui technostress sebagai mediator pada pekerja di Kota Makassar. Metode. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional survey yang melibatkan 90 pekerja di Kota Makassar. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner online yang terdiri dari Technology-Related Pressure Scale, Technostress Creators Scale, dan Maslach-Trisni Burnout Inventory. Analisis data menggunakan multiple regression dengan simple mediation model 4 dari PROCESS Macro. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital demand berkontribusi positif dan signifikan terhadap technostress (B = 1,55; p < 0,05; R² = 0,06). Technostress juga berkontribusi positif dan signifikan terhadap burnout (B = 0,53; p < 0,001; R² = 0,56). Digital demand tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap burnout (B = -0,52; p > 0,05), namun memiliki pengaruh tidak langsung yang signifikan melalui mediasi technostress (B = 0,82; 95% CI [0,23, 1,60]). Kesimpulan. Technostress berperan sebagai mediator penuh dalam hubungan antara digital demand dan burnout pada pekerja di Kota Makassar, sehingga menunjukkan pentingnya pengelolaan technostress dalam mencegah burnout di era digital.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | digital demand; technostress; burnout; pekerja; job-demand resources theory |
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > Psikologi |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 12 Aug 2026 06:46 |
| Last Modified: | 12 Aug 2026 06:46 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/56894 |
