NADIYAH, HAYATUN (2025) Perbandingan Efektivitas Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan Temulawak (Curcuma Zanthorrhiza roxb.) dengan Konsentrasi 30% dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus = Comparison of the Effectiveness of Red Ginger (Zingiber officinale var. rubrum) and Javanese Curcuma (Curcuma Zanthorrhiza roxb.) Extracts with 30% Concentrate in Inhibiting the Growth of Staphylococcus aureus Bacteria. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
J011221052-7SFYvwdjitBZJ50O-20260304060929.jpg
Download (393kB) | Preview
J011221052-1-2.pdf
Download (793kB)
J011221052-dp.pdf
Download (260kB)
J011221052-Fullll.pdf
Restricted to Repository staff only until 2 October 2027.
Download (6MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Infeksi Staphylococcus aureus merupakan masalah kesehatan global, terutama di rongga mulut, dan diperburuk oleh tingginya prevalensi resistensi antibiotik, termasuk Methicillin-resistant S. aureus (MRSA). Kebutuhan akan agen antimikroba alternatif mendorong eksplorasi tanaman herbal, seperti Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan Temulawak (Curcuma zanthorrhiza Roxb), yang mengandung senyawa bioaktif seperti gingerol, shogaol, kurkuminoid, dan xanthorrhizol yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat efektivitas ekstrak etanol jahe merah dan temulawak dengan masing-masing konsentrasi 30% dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro. Metode. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan cross-sectional Hasil. Setelah dilakukan uji daya hambat, terbentuk zona bening di sekitar cakram pada kelompok ekstrak jahe merah (30%), temulawak (30%), dan kontrol positif. Rata-rata zona hambat ekstrak jahe merah 30% adalah 14,72 mm, dan ekstrak temulawak 30% adalah 15,32 mm. Kontrol positif (Chlorhexidine gluconate 2%) memiliki rata-rata zona hambat terbesar sebesar 18,68 mm. Kontrol negatif (Aquades) tidak menunjukkan zona hambat yang signifikan (5,5 mm, setara diameter cakram). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan ($p = 0,000$) antara semua kelompok perlakuan. Kesimpulan. Ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan ekstrak temulawak (Curcuma zanthorrhiza Roxb.) pada konsentrasi 30% memiliki daya hambat dalam kategori kuat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak temulawak pada konsentrasi 30% (15,32 mm) memiliki rerata zona hambat yang lebih besar dibandingkan ekstrak jahe merah (14,72 mm).
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Staphylococcus aureus, Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum), Temulawak (Curcuma zanthorrhiza Roxb.), Daya Hambat Antibakteri. |
| Subjects: | R Medicine > RK Dentistry |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Pendidikan Dokter Gigi > PPDGS - Bedah Mulut dan Maksilofasial |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 10 Jun 2026 00:18 |
| Last Modified: | 10 Jun 2026 00:18 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/56026 |
