RISMA, RISMA (2025) REALITAS SOSIAL BEAUTY PRIVILEGE DI KALANGAN MAHASISWI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN = THE SOCIAL REALITY OF BEAUTY PRIVILEGE AMONG STUDENTS OF THE FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCES HASANUDDIN UNIVERSITY. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
E031211004-Gr7yaOEzSFYUI42V-20250502233249.jpg
Download (331kB) | Preview
E031211004-1-2.pdf
Download (386kB)
E031211004-dp.pdf
Download (156kB)
E031211004-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 25 April 2027.
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Penelitian ini membahas realitas sosial beauty privilege di kalangan mahasiswi FISIP Universitas Hasanuddin serta implikasinya terhadap pola hubungan sosial. Beauty privilege merujuk pada perlakuan istimewa yang diterima individu dengan penampilan fisik yang sesuai dengan standar kecantikan sosial (standar ini mencakup kulit yang cerah, tubuh proporsional, rambut yang terawat serta penggunaan pakaian dan riasan yang mengikuti tren). Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi untuk memahami pengalaman mahasiswi terkait fenomena tersebut. Adapun teknik penentuan informan pada penelitian ini yaitu menggunakan teknik purposive sampling sehingga menghasilkan sebanyak 7 orang mahasiswi sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi yang dianggap cantik cenderung mendapatkan kemudahan dalam interaksi sosial, peluang akademik (hubungan profesional) maupun non-akademik (hubungan interpersonal). Sebaliknya, mereka yang tidak memenuhi standar kecantikan sering mengalami diskriminasi dan keterbatasan akses sosial. Beauty privilege dalam lingkungan kampus tidak hanya berdampak pada individu secara personal, tetapi juga membentuk pola hubungan sosial di antara mahasiswi. Salah satu dampak utama dari beauty privilege adalah terbentuknya kelompok-kelompok sosial berdasarkan kesesuaian dengan standar kecantikan yang dominan mahasiswi yang memenuhi standar kecantikan lebih mudah diterima dalam pergaulan dan sering kali membentuk lingkaran sosial eksklusif. Sebaliknya, mereka yang tidak memenuhi standar tersebut cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan menghadapi hambatan sosial. Pola hubungan sosial ini menciptakan hierarki sosial yang memengaruhi dinamika kehidupan kampus. Dengan demikian maka disarankan agar perlu diteliti lebih lanjut agar manfaat sosiologis dapat dilihat dari bagaimana konstruksi sosial berperan dalam membentuk pengalaman individu dan kelompok dalam suatu lingkungan sosial. Berdasarkan analisis konstruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckman, hasil penelitian menjelaskan bahwa beauty privilege bukanlah fenomena alami, melainkan hasil konstruksi sosial yang terus direproduksi. Oleh karena itu, kesadaran kritis terhadap dampak beauty privilege perlu ditingkatkan untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan adil. Kata kunci: beauty privilege, hubungan sosial, konstruksi sosial, mahasiswi, realitas sosial.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kata kunci: beauty privilege, hubungan sosial, konstruksi sosial, mahasiswi, realitas sosial. |
| Subjects: | H Social Sciences > HM Sociology |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 18 Feb 2026 02:29 |
| Last Modified: | 18 Feb 2026 02:29 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/53639 |
