DJAMBIA, MUHAMMAD ALISOFYAN AR (2025) Penyelesaian masalah dengan kekerasan dalam film tarung sarung karya Archie Hekagery: Analisis strukturalisme Levi-Strauss = Resolving problems with violence in Archie Hekagery's sarong fighting film: A Levi-Strauss structuralist analysis. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
F021201047-Cover.jpg
Download (344kB) | Preview
F021201047-1-2(FILEminimizer).pdf
Download (323kB)
F021201047-dp(FILEminimizer).pdf
Download (146kB)
F021201047-fulll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 8 August 2027.
Download (809kB)
Abstract (Abstrak)
MUHAMMAD ALISOFYAN AR DJAMBIA. Penyelesaian masalah secara kekerasan dalam film Tarung Sarung (dibimbing oleh Andi Muhammad Akhmar). Latar belakang. Film ini menggambarkan pertarungan fisik sebagai media penyelesaian konflik utama, baik dalam ranah perebutan cinta, harga diri, maupun status sosial. Tokoh utama, Deni Ruso, berulang kali terlibat dalam pertarungan sarung sebagai bentuk ekspresi emosional dan cara memperoleh pengakuan dari lingkungan sosialnya. Penggambaran tersebut menunjukkan bahwa kekerasan dijadikan jalan keluar yang sah dan bahkan mendapat legitimasi kultural dalam konteks tradisi tarung sarung masyarakat Makassar. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk oposisi biner dalam film Tarung Sarung karya Archie Hekagery dengan menggunakan pendekatan strukturalisme Claude Lévi-Strauss. Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa film sebagai media populer dapat merepresentasikan pertentangan nilai dalam masyarakat. Metode. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-interpretatif dengan teknik analisis naratif. Data primer dalam penelitian ini adalah film Tarung Sarung, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi berulang terhadap adegan, dialog, dan simbol-simbol visual dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menampilkan sejumlah oposisi biner yang signifikan, antara lain: 1). Modern vs Tradisional, 2). Duniawi vs Religius, 3). Kekuasaan vs Kerendahan Hati, 4). Kekerasan vs Perdamaian, 5). Individu vs Komunitas, 6). Maskulinitas Toksik vs Maskulinitas Spiritual, 7). Gengsi vs Harga Diri, 8). Keluarga vs Kekuasaan, dan 9). Barat vs Lokal. Oposisi-oposisi tersebut menjadi fondasi naratif yang membentuk transformasi karakter utama, Deni, dari sosok arogan dan materialistis menjadi pribadi yang lebih dewasa, religius, dan berakar pada nilai-nilai lokal. Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya menjadi alat naratif, melainkan juga kritik terhadap budaya kekerasan sebagai solusi utama atas konflik.
Keyword : Film; Tarung Sarung; budaya lokal; oposisi biner; strukturalisme; kekerasan; identitas sosial.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Film; Sarung Fighting; local culture; binary opposition; structuralism; violence; social identity. |
| Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Ilmu Budaya > Sastra Bugis-Makassar |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 11 Feb 2026 01:23 |
| Last Modified: | 11 Feb 2026 01:23 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/53428 |
