HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI TERHADAP KEJADIAN TUMOR AMELOBLASTOMA DI SULAWESI SELATAN: (PENEDEKATAN GEOSPASIAL) PERIODE 2022-2024


NAPITUPULU, FENTY (2026) HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI TERHADAP KEJADIAN TUMOR AMELOBLASTOMA DI SULAWESI SELATAN: (PENEDEKATAN GEOSPASIAL) PERIODE 2022-2024. Sp thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of J045221003-DpBvtwTsEbK1HNcy-20260706162438.pdf] Text
J045221003-DpBvtwTsEbK1HNcy-20260706162438.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract (Abstrak)

ABSTRAK FENTY NAPITUPULU. Hubungan Faktor Sosiodemografi Terhadap Kejadian Tumor Ameloblastoma Di Sulawesi Selatan: (Pendekatan Geospasial) Periode 2022-2024 Latar Belakang: Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik yang bersifat lokal agresif dan menunjukkan variasi geografis yang jelas, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sosiodemografi, dan kapasitas sistem kesehatan. Di Indonesia, khususnya Provinsi Sulawesi Selatan, data epidemiologi spasial ameloblastoma masih terbatas, padahal terdapat kesenjangan nyata antar kabupaten/kota dalam hal kondisi geografis, fasilitas layanan, dan status sosial ekonomi. Tujuan: Menganalisis hubungan ekologi antara kapasitas layanan kesehatan dan indikator sosial ekonomi dengan insidensi ameloblastoma antar kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, serta mengeksplorasi pola spasial dan variasi lokal hubungan tersebut menggunakan analisis geospasial. Metode: Penelitian ini merupakan studi ekologi analitik dengan unit analisis kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Data agregat kasus ameloblastoma tahun 2022–2024 dikaitkan dengan indikator kapasitas layanan kesehatan dan indikator sosial ekonomi. Distribusi geografis digambarkan menggunakan peta dan klasifikasi Jenks natural breaks. Uji korelasi Pearson digunakan untuk menilai hubungan ekologi antar variabel, sedangkan GWR digunakan untuk mengevaluasi variasi spasial lokal pengaruh variabel sosial ekonomi terhadap insidensi ameloblastoma. Hasil: Insidensi ameloblastoma terkonsentrasi pada koridor selatan barat daya, dengan Kota Makassar dan Kota Parepare berada pada kelas insidensi tertinggi, sementara sebagian besar kabupaten lainnya hanya mencatat kasus sporadis. Terdapat korelasi positif sangat kuat antara insidensi ameloblastoma dan kapasitas layanan kesehatan (jumlah fasyankes lanjutan, Sp.PA, dan Sp.BMM/Onkologi; r ≈ 0,82–0,89; p < 0,0001). Di antara indikator sosial ekonomi, kemiskinan berkorelasi negatif sedang (r = –0,493; p < 0,01), sedangkan pengeluaran per kapita, rata-rata lama sekolah, dan pengangguran terbuka berkorelasi positif kuat dengan insidensi ameloblastoma (r = 0,698; 0,617; 0,639; p < 0,01); indikator lain tidak bermakna. Pemodelan GWR menunjukkan efek yang tidak seragam (non-stasioner), dengan sebagian besar kabupaten/kota memiliki sedikitnya satu determinan sosial ekonomi signifikan, terutama kemiskinan, pendidikan, dan pengangguran. Kesimpulan: Insidensi ameloblastoma di Sulawesi Selatan terpusat di kota rujukan dengan kapasitas diagnostik tinggi dan sangat dipengaruhi oleh distribusi fasilitas serta tenaga kesehatan spesialis. Secara ekologi, faktor kemiskinan, daya beli, pendidikan, dan pengangguran berkontribusi terhadap variasi jumlah kasus yang tercatat antar kabupaten/kota melalui perbedaan akses dan pemanfaatan layanan diagnostik. Analisis geospasial dan GWR menegaskan adanya heterogenitas lokal yang besar Kata kunci: Ameloblastoma; Studi Ekologi; Analisis Geospasial; GWR; Faktor Sosialdemografi ; Sulawesi Selatan.

Item Type: Thesis (Sp)
Uncontrolled Keywords: Kata kunci: Ameloblastoma; Studi Ekologi; Analisis Geospasial; GWR; Faktor Sosialdemografi ; Sulawesi Selatan.
Subjects: R Medicine > RK Dentistry
Divisions (Program Studi): Fakultas Pendidikan Dokter Gigi > PPDGS - Bedah Mulut dan Maksilofasial
Depositing User: Unnamed user with username pklpkl
Date Deposited: 23 Oct 2026 08:39
Last Modified: 23 Oct 2026 08:39
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/60287

Actions (login required)

View Item
View Item