S., HUSNUL KHATIMAH (2026) Analisis Hubungan Faktor Sosiodemografi dan Faktor Klinis Terhadap Respons Steroid, Remisi dan Kejadian Relaps pada Pasien Anak Sindrom Nefrotik. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
N012241025-9ie5GuzYNPwCrWnl-20260819144008.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang: Sindrom nefrotik pada anak ditandai dengan proteinuria masif, hipoalbuminemia, dan edema. Kortikosteroid merupakan terapi lini utama sindrom nefrotik, namun respons terhadap terapi ini bervariasi antarpasien. Sebagian pasien mengalami resistensi steroid atau relaps berulang yang dapat memperburuk perjalanan penyakit dan meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, identifikasi faktor klinis yang berkaitan dengan luaran terapi menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor sosiodemografi dan faktor klinis dengan respons terapi steroid, status remisi, serta kejadian relaps pada pasien anak sindrom nefrotik Metode: Studi retrospektif ini menggunakan rekam medis pasien sindrom nefrotik anak yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan dari 1 Januari 2023 hingga31 Desember 2025. Sebanyak 60 pasien dianalisis untuk respons steroid dan remisi, dan 48 pasien untuk relaps. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi-square atau uji Fisher’s exact, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik multivariat. Hasil: Mayoritas pasien tergolong sebagai steroid sensitif (SSNS) (73,3%), dan sebagian besar mencapai remisi (80%). Namun demikian, separuh pasien (50%) mengalami relaps yang sering atau ketergantungan steroid. Pada analisis bivariat, hematuria berhubungan mendekati bermakna dengan respons steroid (p = 0,050), bermakna dengan remisi (p = 0,027), dan dengan relaps (p = 0,005). Hipertensi juga menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap status remisi (p = 0,041). Faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan seluruh luaran klinis yang dinilai. Pada analisis multivariat, tidak ada variabel yang secara independen berhubungan signifikan dengan respons terapi steroid . Hipertensi terbukti sebagai prediktor independen yang bermakna terhadap remisi (p= 0,045; OR 4,18 (95% CI: 1,03–16,96) yang menunjukkan bahwa anak dengan hipertensi memiliki risiko sekitar 4 kali lebih tinggi untuk tidak mencapai remisi dibandingkan anak tanpa hipertensi. Untuk kejadian relaps, dua faktor terbukti sebagai prediktor independen yang bermakna yaitu hematuria (p = 0,003; OR 16,08; 95% CI: 2,51–103,95) dan usia (p = 0,019; OR 0,14; 95% CI: 0,03–0,73) . Anak dengan hematuria memiliki risiko 16 kali lebih tinggi untuk mengalami relaps dibandingkan anak tanpa hematuria. Sementara itu, anak usia 6-12 tahun memiliki peluang untuk tidak mengalami relpas sebesar 86% lebih rendah dibandingkan anak berusia kurang dari 6 tahun. Kesimpulan: Hematuria merupakan faktor klinis yang secara konsisten berhubungan dengan luaran terapi sindrom nefrotik anak, sedangkan hipertensi merupakan prediktor independen terhadap kegagalan remisi dan usia merupakan faktor protektif terhadap kejadian relaps. Penilaian dini terhadap faktor-faktor tersebut dapat membantu stratifikasi risiko dan optimalisasi tata laksana pasien.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | sindrom nefrotik, anak, respons steroid, remisi, relaps, hematuria, hipertensi |
| Subjects: | R Medicine > RS Pharmacy and materia medica |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Farmasi > Farmasi |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 23 Oct 2026 00:35 |
| Last Modified: | 23 Oct 2026 00:35 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/60212 |
