S, SRIANDAYANI AR (2026) EFEKTIVITAS REBUSAN DAUN KELAKAI (STENOCHLAENA PALUSTRIS) SEBAGAI TERAPI HERBAL FLOUR ALBUS. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
P102242018-Wz3rwYSekN487DGp-20260818205427.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (7MB)
Abstract (Abstrak)
SriAndayani ARS Efektivitas Rebusan Daun Kelakai (Stenochlaena Palustris) Sebagai Terapi Herbal Flour Albus (Dibimbing oleh Andi Nilawati Usman dan Jumrah) Latar Belakang: Keputihan patologis (fluor albus) merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang paling sering dialami oleh wanita usia reproduksi. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman serta menurunkan kualitas hidup. Penggunaan obat herbal semakin banyak diminati sebagai terapi pendamping karena memiliki potensi sebagai antimikroba dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas rebusan daun kelakai (Stenochlaena palustris) dengan antiseptik vagina komersial dalam memperbaiki manifestasi klinis keputihan patologis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimental dengan rancangan pretest–posttest control group. Penelitian telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (No. 1360/UN4.14.1/TP .01.02/2026). Sebanyak 60 wanita usia reproduksi yang mengalami keputihan patologis dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok rebusan daun kelakai (n = 30) dan kelompok antiseptik vagina komersial (n = 30). Kedua kelompok mendapatkan intervensi dua kali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Gejala klinis dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi. Analisis perubahan dalam masing-masing kelompok dilakukan menggunakan uji Wilcoxon, sedangkan perbandingan antara kedua kelompok dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil: Kedua jenis intervensi terbukti memberikan perbaikan yang bermakna pada seluruh gejala klinis yang dinilai setelah pengobatan (seluruh nilai p < 0,05). Namun, dibandingkan dengan antiseptik vagina komersial, rebusan daun kelakai memberikan perbaikan yang secara signifikan lebih baik pada gejala gatal (p = 0,003), nyeri (p < 0,001), konsistensi cairan keputihan (p = 0,008), dan jumlah cairan keputihan (p = 0,001). Sementara itu, tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok terhadap perbaikan bau vagina (p = 0,256) maupun warna cairan keputihan (p = 0,931). Kesimpulan: Rebusan daun kelakai (Stenochlaena palustris) merupakan terapi herbal komplementer yang efektif dalam memperbaiki manifestasi klinis keputihan patologis. Dibandingkan dengan antiseptik vagina komersial, rebusan daun kelakai menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam mengurangi beberapa gejala klinis. Meskipun demikian, penelitian lanjutan dengan desain randomized controlled trial yang disertai pemeriksaan mikrobiologi masih diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini. Kata kunci: Stenochlaena palustris; keputihan patologis; terapi komplementer; obat herbal; kesehatan wanita.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Stenochlaena palustris; keputihan patologis; fluor albus; terapi herbal; kesehatan reproduksi wanita. |
| Subjects: | R Medicine > RG Gynecology and obstetrics |
| Divisions (Program Studi): | Program Pascasarjana > Ilmu Kebidanan |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 22 Oct 2026 01:02 |
| Last Modified: | 22 Oct 2026 01:02 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/60058 |
