SALLATALOHY, NINIK MA’ATHIA (2026) PENGEMBANGAN PERMODELAN TIKUS CEDERA GINJAL AKUT YANG DIINDUKSI TRIPLE WHAMMY. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
P062242003-I0cC8FpaRLk2YXKu-20260812113417.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Terapi triple whammy (TW), merupakan kombinasi inhibitor sistem renin–angiotensin–aldosteron (RAAS), obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), dan diuretik, yang dapat menyebabkan cedera ginjal akut (acute kidney injury; AKI). Namun, bukti komparatif mengenai efek nefrotoksik regimen triple whammy berbasis angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor) dibandingkan angiotensin receptor blocker (ARB) masih terbatas, dan pengaruh selektivitas OAINS dalam kombinasi tersebut belum sepenuhnya dipahami. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model eksperimental triple whammy serta menentukan kombinasi obat yang memiliki potensi terbesar dalam menginduksi AKI melalui penilaian biomarker cedera ginjal dan perubahan histopatologi. Metode. Sebanyak 30 ekor tikus Wistar jantan dibagi secara acak ke dalam lima kelompok (n=6), yaitu kelompok vehicle Na-CMC (kontrol), ramipril + ibuprofen + furosemid (RIF), ramipril + celecoxib + furosemid (RCF), candesartan + ibuprofen + furosemid (CIF), dan candesartan + celecoxib + furosemid (CCF). Fungsi ginjal dievaluasi berdasarkan kadar ureum, kreatinin, dan cystatin C serum, serta ekskresi protein urin. Penilaian histopatologi ginjal dilakukan menggunakan sistem skor semikuantitatif berdasarkan derajat kerusakan jaringan. Hasil. Seluruh regimen triple whammy menimbulkan perubahan fungsi ginjal dan gambaran histopatologis. Kadar kreatinin serum meningkat pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol, namun perbedaannya tidak bermakna secara statistik (p = 0,131). Terdapat perbedaan bermakna kadar ureum serum antar kelompok (p = 0,010), dengan kadar tertinggi ditemukan pada kelompok CCF (45,42 ± 11,27 mg/dL) dan CIF (45,15 ± 3,92 mg/dL). Kadar cystatin C serum juga menunjukkan kecenderungan meningkat, terutama pada kelompok CCF, namun tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok (p = 0,313). Ekskresi protein urin berbeda secara signifikan antar kelompok (p = 0,008), dengan derajat proteinuria yang lebih tinggi pada seluruh kelompok perlakuan dibandingkan kontrol. Perubahan histopatologis utama meliputi degenerasi hidropik tubulus, cast proteinaceous, inflamasi interstisial ringan, glomerulus yang masih terjaga. Skor histopatologi tidak berbeda bermakna antar kelompok, namun regimen CCF menunjukkan luas dan variasi cedera tubulus yang paling besar. Kesimpulan. Karakteristik nefrotoksisitas yang diinduksi triple whammy berbeda menurut kombinasi inhibitor RAAS dan OAINS yang digunakan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan risiko cedera ginjal antara regimen berbasis ACE inhibitor dan ARB, sehingga pemilihan kombinasi obat secara spesifik perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan cedera ginjal akut.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | cedera ginjal akut; triple whammy; ACE inhibitor; angiotensin receptor blocker; obat antiinflamasi nonsteroid. |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Program Pascasarjana > Ilmu Biomedik |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 20 Oct 2026 01:52 |
| Last Modified: | 20 Oct 2026 01:52 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59836 |
