PERUBAHAN DAN KESESUAIAN HABITAT DALAM MENDUKUNG UPAYA KONSERVASI TANGKASI Tarsius dentatus DI DESA KAMARORA TAMAN NASIONAL LORE LINDU


SUPARI, EVIYANI (2026) PERUBAHAN DAN KESESUAIAN HABITAT DALAM MENDUKUNG UPAYA KONSERVASI TANGKASI Tarsius dentatus DI DESA KAMARORA TAMAN NASIONAL LORE LINDU. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of M012221016-fulll.pdf] Text
M012221016-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract (Abstrak)

Tangkasi (Tarsius dentatus), primata nokturnal endemik Sulawesi Tengah, saat ini berstatus Rentan (Vulnerable), akibat menyusutnya hutan hutan dan maraknya perburuan liar di sekitar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), khususnya Desa Kamarora. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran lokal tangkasi dan mengidentifikasi karakteristik fisik serta biologis dari mikrohabitat pohon sarangnya. Selain itu, penelitian ini mengukur perubahan tutupan lahan yang terjadi selama periode 2014–2023, lalu memetakan zona kesesuaian habitat potensial menggunakan model Maximum Entropy (MaxEnt) sebagai dasar rekomendasi zona penyelamatan (rescue zone) bagi populasi T.dentatus yang terancam. Pengumpulan data lapangan dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2024 melalui metode eksplorasi aktif pada waktu senja (16:30–18:30 WITA) dan subuh (04:30–06:00 WITA). Deteksi keberadaan satwa didasarkan pada perjumpaan langsung, vokalisasi fajar (duet call), dan bau urine spesifik. Karakteristik vegetasi sarang diukur secara destruktif minimal, meliputi diameter setinggi dada (DBH 10 cm), tinggi total, tinggi bebas cabang, dan proyeksi luas tajuk. Analisis prediktor lingkungan menggunakan data elevasi digital (DEM 8m), citra Landsat 8 tahun 2024 untuk ekstraksi suhu permukaan tanah (Land Surface Temperature/LST) dan indeks vegetasi (Normalized Difference Vegetation Index/NDVI), serta peta administratif jaringan jalan, sungai, dan permukiman. Hasil survei berhasil memetakan 18 titik sarang aktif, di mana 14 sarang berada di dalam kawasan TNLL dan 4 sarang di Areal Penggunaan Lain (APL) yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia. Dari aspek mikrohabitat, T. dentatus menunjukkan seleksi sarang yang kuat pada pohon beringin (Ficus benyamina) sebesar 44,4% dan rumpun bambu (Gigantochloa apus) sebesar 27,8%, di samping tumbuhan salak (Salacca zalacca), gamelia (Tetracera sarmentosa), dan sarai (Caryota mitis). Mayoritas sarang ditemukan pada kemiringan lereng agak curam (15%–25%), elevasi 800–900 mdpl, suhu permukaan 29°C, dan kerapatan vegetasi tinggi (NDVI 0,36–1,00).Analisis temporal tutupan lahan (2014–2023) mengungkap konversi hutan lahan kering sekunder sebesar 207,53 Ha, dengan puncak deforestasi terjadi pada tahun 2017 seluas 206,59 Ha yang dialihfungsikan menjadi pertanian lahan kering. Pemodelan MaxEnt menunjukkan akurasi prediktif yang sangat tinggi dengan nilai Area Under Curve (AUC), rata-rata sebesar 0,948. Variabel dengan kontribusi dominan dalam pembentukan model adalah tutupan lahan (59,9%) dan jarak dari jalan (24,4%). Secara spasial, wilayah Desa Kamarora didominasi oleh kategori Tidak Sesuai seluas 1.597,50 Ha (77,62%), sedangkan kategori Sangat Sesuai hanya mencakup 93,06 Ha (4,52%) yang terkonsentrasi di zona sabuk tengah bagian barat. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengelola TNLL dalam menetapkan batas operasional rescue area. Kata Kunci: Tarsius dentatus, Karakteristik Mikrohabitat, Deforestasi, Maximum Entropy, Taman Nasional Lore Lindu.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: Kata Kunci: Tarsius dentatus, Karakteristik Mikrohabitat, Deforestasi, Maximum Entropy, Taman Nasional Lore Lindu.
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions (Program Studi): Fakultas Kehutanan > Kehutanan
Depositing User: Unnamed user with username pklpkl
Date Deposited: 19 Oct 2026 07:59
Last Modified: 19 Oct 2026 07:59
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59755

Actions (login required)

View Item
View Item