NAWIR, MUHAMMAD (2026) PERENCANAAN KAPASITAS ENERGI LISTRIK SULAWESI BERBASIS ENERGI TERBARUKAN MENGGUNAKAN MODEL BALMOREL. Thesis thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN.
D032232001-ZxHvUDb09m8pNTWC-20260816073920.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Permintaan listrik Sulawesi diproyeksikan meningkat 148% dari 70,3 TWh pada 2025 menjadi 174,4 TWh pada 2060, di tengah komitmen Net Zero Emissions (NZE) Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC), sehingga menuntut perencanaan ekspansi kapasitas terpadu. Tujuan. Penelitian ini menentukan ekspansi kapasitas optimal Sulawesi periode 2025 hingga 2060 menggunakan model Balmorel enam node, membandingkannya terhadap koridor Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), mengevaluasi potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) dan kelayakan nuklir, serta mengidentifikasi divergensi terhadap simulasi Low Emissions Analysis Platform (LEAP). Metode. Model diimplementasikan dalam General Algebraic Modeling System (GAMS) dengan solver CPLEX, memanfaatkan capacity factor tergeoreferensi dan batas potensi EBT per node dari Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Tiga skenario, Business as Usual (BAU), Moderation (MOD), dan NZE, dikonstruksi dengan Balmorel sebagai masukan eksogen LEAP. Empat belas teknologi kandidat dievaluasi, nuklir diuji bebas pada BAU dan MOD serta dibatasi jalur RUKN pada NZE. Hasil. NZE mencapai emisi nol MtCO2 pada 2060, produksi didominasi PLTA Besar (30,0%), Batubara dengan Carbon Capture and Storage (CCS) (27,3%), dan Nuklir (14,0%), dengan PLTB terkonsentrasi penuh di Sulawesi Selatan (4.193 MW). Nuklir tidak terpilih pada BAU tetapi mencapai 4.383 MW pada MOD. Pada NZE, nuklir mencapai tepat batas RUKN 3.000 MW pada 2060, tersebar di Sulawesi Selatan (2.701,6 MW) dan Sulawesi Tenggara (298,4 MW), menunjukkan ruang ekspansi nuklir RUKN termanfaatkan penuh setelah Batubara+CCS, PLTA Besar, dan EBT tergeoreferensi dimanfaatkan. Faktor emisi jaringan per node turun dari 0,76 tCO2/MWh pada tahun dasar menjadi 0 sampai 0,08 tCO2/MWh pada 2056. Biaya sistem NPV meningkat dari 66,26 miliar USD pada BAU dan 67,30 miliar USD pada MOD menjadi 95,83 miliar USD pada NZE, premi sekitar 44,6% di atas BAU. LEAP menghasilkan emisi berbeda dari Balmorel, dengan divergensi terbesar pada NZE (maksimum 45,9 MtCO2 per tahun, 2054), diikuti MOD (22,6 MtCO2, 2060) dan BAU (6,3 MtCO2, 2054), mencerminkan perbedaan metodologi optimasi Balmorel dan akuntansi skenario LEAP. Kesimpulan. Transisi NZE Sulawesi dapat dicapai secara teknis dengan teknologi komersial saat ini, dengan kapasitas EBT terdistribusi sesuai bukti sumber daya riil dan nuklir dimanfaatkan hingga batas penuh RUKN sebagai pilar ketiga setelah PLTA Besar dan Batubara+CCS. Kerangka hibrida Balmorel dan LEAP direkomendasikan sebagai praktik terbaik perencanaan energi nasional.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | ekspansi kapasitas; emisi nol bersih; kelayakan nuklir; LEAP; pemrograman linear; transisi energi |
| Subjects: | T Technology > TK Electrical engineering. Electronics Nuclear engineering |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Teknik > Teknik Elektro |
| Depositing User: | Unnamed user with username takdim |
| Date Deposited: | 19 Oct 2026 00:42 |
| Last Modified: | 19 Oct 2026 00:42 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59624 |
