SABRI, AMALIA KARTIKA (2026) PENGEMBANGAN DAN EVALUASI SISTEM PENGHANTAR OBAT ANTI TUBERKULOSIS BERBASIS NANOPARTIKEL KOMPLEKS POLIELEKTROLIT KITOSAN–PEKTIN–Na-CMC SECARA IN VITRO. Thesis thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN.
H012242009-LIv2pyfMhHxPlgjB-20260930134859.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (6MB)
Abstract (Abstrak)
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit infeksi dengan beban morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia, dengan estimasi 10,6 juta kasus baru dan 1,3 juta kematian pada tahun 2022. Rifampisin dan isoniazid merupakan obat lini pertama dalam terapi TB, namun efektivitasnya masih dipengaruhi oleh keterbatasan bioavailabilitas, stabilitas obat, serta kebutuhan terapi dalam jangka waktu relatif panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memfabrikasi nanopartikel hibrida berbasis kompleks polielektrolit kitosan–pektin–natrium karboksimetil selulosa (Na-CMC) sebagai sistem penghantar rifampisin dan isoniazid serta menentukan formulasi optimum berdasarkan karakteristik fisikokimia, profil pelepasan obat, dan aktivitas antibakteri. Nanopartikel difabrikasi menggunakan metode gelasi ionik dengan natrium tripolifosfat (Na-TPP) sebagai agen pengikat silang. Variasi rasio kitosan:pektin:Na-CMC yang digunakan yaitu F1 (1:1:1), F2 (2:1:1), dan F3 (1:2:2). Karakterisasi meliputi efisiensi enkapsulasi (encapsulation efficiency, EE), drug loading (DL), ukuran partikel dan polydispersity index (PDI) menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), identifikasi gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), morfologi permukaan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), stabilitas penyimpanan, profil pelepasan obat secara in vitro, analisis kinetika pelepasan, serta uji aktivitas antibakteri terhadap Mycobacterium tuberculosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formulasi berhasil membentuk nanopartikel dengan ukuran berkisar 118,3–158,3 nm dan nilai PDI 0,143–0,194. Formulasi F1 menghasilkan karakteristik terbaik dengan nilai EE rifampisin 99,83% dan isoniazid 89,78%, serta nilai DL rifampisin 29,09% dan isoniazid 26,16%. Spektrum FTIR menunjukkan adanya interaksi antara gugus amino kitosan dan gugus karboksilat pektin serta Na-CMC yang mendukung terbentuknya kompleks polielektrolit, sedangkan hasil SEM menunjukkan morfologi permukaan yang relatif kompak dan homogen dengan kecenderungan aglomerasi paling rendah pada F1. Pengujian stabilitas menunjukkan bahwa F1 memiliki kestabilan fisik terbaik selama penyimpanan 28 hari pada 4 °C. Profil pelepasan obat menunjukkan pelepasan bertahap, dengan model kinetika terbaik yang bervariasi antarformulasi dan jenis obat. Model Korsmeyer–Peppas menunjukkan mekanisme transportasi non-Fickian. Pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa F1 dan F2 memiliki aktivitas penghambatan pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis H37Rv yang relatif lebih baik dan konsisten dibandingkan F3. Berdasarkan evaluasi seluruh parameter, formulasi F1 (kitosan:pektin:Na-CMC = 1:1:1) ditetapkan sebagai formulasi optimum.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | tuberkulosis, rifampisin, isoniazid, nanopartikel, kitosan, pektin, Na-CMC, kompleks polielektrolit, gelasi ionik. |
| Subjects: | Q Science > QD Chemistry |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Matematika dan Ilmu Peng. Alam > Kimia |
| Depositing User: | Unnamed user with username takdim |
| Date Deposited: | 07 Oct 2026 02:16 |
| Last Modified: | 07 Oct 2026 02:16 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58951 |
