RAHMAH, NUR (2025) MODEL LAYANAN KESEHATAN DAN PENGENDALIAN HIPERTENSI BERBASIS FAKTOR RISIKO DENGAN METODE ISM DAN SEM DI WILAYAH KEPULAUAN SANGKARRANG. Disertasi thesis, Universitas Hasanuddin.
K013211043-6f0uZ5LFBPNk1cJn-20251008150857.jpg
Download (433kB)
K013211043-1-2.pdf
Download (851kB)
K013211043-dp.pdf
Download (96kB)
K013211043-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Hipertensi menjadi ancaman bagi masyarakat yang sulit menjangkau pelayanan kesehatan di kepulauan. Kendala utama masyarakat jarang memeriksakan kesehatan adalah masalah jarak tempuh dan transportasi untuk sampai ke pulau yang memiliki pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. Beberapa masyarakat memilih melewati fasilitas perawatan kesehatan primer untuk mencari perawatan spesialis ke tingkat yang lebih tinggi sehingga mengeluarkan biaya lebih di luar jaminan kesehatan. Tujuan. Mengidentifikasi model layanan kesehatan dan pencegahan hipertensi berbasis faktor risiko di wilayah kepulauan. Metode. Penelitian dibagi empat tahap, yakni: 1) Analisis Bibliometri untuk mengidentifikasi tren dan pola pelayanan kesehatan primer di kepulauan; 2) Identifikasi distribusi dan proporsi biaya perawatan dan pengobatan penderita hipertensi; 3) Analisis Interpretive Structural Modeling (ISM) indirect cost dan faktor risiko; dan 4) Analisis Structural Equation Modeling (SEM) faktor risiko penderita hipertensi di kepulauan. Hasil. Analisis bibliometrik menunjukkan bahwa isu aksesibilitas dan kondisi sosial ekonomi sering menjadi fokus dalam literatur mengenai pelayanan kesehatan primer di wilayah kepulauan. Di Kepulauan Sangkarrang, proporsi pengeluaran kesehatan akibat hipertensi rata-rata 15%: Barrang Lompo 11,02%, Kodingareng 13,65%, dan Barrang Caddi 22,49%. Total pengeluaran kesehatan sebesar Rp. 84.049.500,- dengan rata-rata Rp. 3.104.400,- per penderita per tahun. Identifikasi cost of illness (COI) mengungkapkan bahwa Opportunity Cost merupakan komponen biaya yang paling signifikan sebesar Rp. 52.550.000,- dengan rata-rata sebesar Rp. 1.940.400,- per penderita per tahun, temuan ini diperkuat melalui analisis ISM berdasarkan pendapat para pengambil kebijakan. Selain itu, hasil ISM juga mengidentifikasi elemen kunci faktor utama pengendalian hipertensi yaitu aksesibilitas, kepatuhan minum obat, pola konsumsi garam, dan kebiasaan merokok. Sementara itu, hasil SEM dari perspektif masyarakat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan minum obat terbukti memiliki pengaruh paling kuat dan signifikan terhadap hipertensi, dengan koefisien jalur tertinggi (0,949) diikuti pengetahuan (0,849), aktivitas fisik (0,792) dan pola konsumsi tidak sehat (0,697). Kesimpulan. Aksesibilitas dan kondisi sosial ekonomi menjadi faktor utama pemanfaatan layanan kesehatan primer di kepulauan. Hipertensi menimbulkan beban ekonomi tinggi dengan proporsi pengeluaran melampaui ambang catastrophic health expenditure (<10%) dan opportunity cost sebagai komponen terbesar. Pengendalian hipertensi dipengaruhi oleh aksesibilitas, pengetahuan, kepatuhan minum obat dan life style. Dibutuhkan strategi manajemen penyakit kronis berbasis komunitas untuk mengendalikan dan menekan beban hipertensi di wilayah kepulauan.
| Item Type: | Thesis (Disertasi) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Kesehatan Masyarakat |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 25 Sep 2026 07:40 |
| Last Modified: | 25 Sep 2026 07:40 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57955 |
