HUBUNGAN GAGAL JANTUNG KRONIK DENGAN SARKOPENIA PADA USIA LANJUT = THE RELATIONSHIP OF CHRONIC HEART FAILURE WITH SARCOPENIA IN ELDERLY


DARWIS, M. ZHAFRAN (2026) HUBUNGAN GAGAL JANTUNG KRONIK DENGAN SARKOPENIA PADA USIA LANJUT = THE RELATIONSHIP OF CHRONIC HEART FAILURE WITH SARCOPENIA IN ELDERLY. Thesis thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR.

[thumbnail of Cover] Image (Cover)
C015212019-JlPwN6RVbjhdYE9M-20260521144846.jpg

Download (176kB)
[thumbnail of Bab 1-2] Text (Bab 1-2)
C015212019-1-2.pdf

Download (707kB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
C015212019-dp.pdf

Download (239kB)
[thumbnail of Full Teks] Text (Full Teks)
C015212019-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 27 August 2028.

Download (1MB)

Abstract (Abstrak)

Sarkopenia merupakan komorbiditas yang semakin banyak ditemukan pada gagal jantung kronik (GJK); namun, data mengenai hubungan ini berdasarkan subtipe fraksi ejeksi (FE) masih terbatas, khususnya pada populasi lanjut usia di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara GJK dan sarkopenia serta mengevaluasi faktor risiko demografis dan klinis yang relevan pada pasien lanjut usia. Metode: Penelitian observasional dengan desain kasus-kontrol dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Indonesia. Sebanyak 140 peserta lanjut usia (usia ≥60 tahun) diikutsertakan: 70 orang dengan GJK yang didiagnosis berdasarkan panduan PERKI 2023, dan 70 orang kontrol yang disesuaikan berdasarkan usia tanpa GJK. Pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium akhir, keganasan aktif, sirosis hati dengan dekompensasi hepatik, atau kondisi akut yang diketahui memengaruhi status fungsional atau komposisi tubuh dieksklusi dari penelitian. Analisis chi-square dan odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan (IK) 95% digunakan untuk evaluasi statistik. Hasil: Rerata usia peserta adalah 66 ± 5 tahun; 52,9% berjenis kelamin laki-laki dan 35,7% diklasifikasikan sebagai obesitas. Prevalensi sarkopenia secara keseluruhan adalah 40,0%. Sarkopenia secara bermakna lebih banyak ditemukan pada pasien GJK (58,6%) dibandingkan kelompok kontrol (21,4%) (p < 0,001; OR = 5,2, IK 95%: 2,47–10,90). Subtipe FE secara bermakna berhubungan dengan prevalensi sarkopenia (p = 0,041), dengan GJK fraksi ejeksi tersimpan (HFpEF) menunjukkan angka tertinggi (76,2%). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara subtipe FE dan derajat keparahan sarkopenia (p = 0,575). Usia ≥70 tahun (OR = 3,3, IK 95%: 1,47–7,30; p = 0,003) dan status non-obesitas (OR = 2,3, IK 95%: 1,07–4,73; p = 0,031) secara independen berhubungan dengan sarkopenia, sedangkan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p = 0,240). Kesimpulan: GJK berhubungan dengan peningkatan risiko sarkopenia sebesar lima kali lipat pada pasien lanjut usia, dengan HFpEF menunjukkan prevalensi tertinggi di antara subtipe fraksi ejeksi. Skrining sarkopenia secara rutin direkomendasikan pada pasien lanjut usia dengan GJK, khususnya pada mereka dengan HFpEF, guna memfasilitasi intervensi dini dan mengoptimalkan luaran klinis

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: gagal jantung, sarkopenia, penuaan, fraksi ejeksi
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Penyakit Dalam
Depositing User: - Andi Anna
Date Deposited: 22 Sep 2026 07:44
Last Modified: 22 Sep 2026 07:44
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57692

Actions (login required)

View Item
View Item