ANSARULLAH, SUCI AULIA (2026) Faktor yang Berhubungan dengan Gejala Depresi pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) dengan HIV di Puskesmas Jumpandang Baru Kota Makassar=Factors Associated with Depressive Symptoms in Men Who Have Sex with Men (MSM) with HIV at the Jumpandang Baru Community Health Center, Makassar City. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
K011221155-DqYUns6lBN5geJ2v-20260525114448.jpg
Download (111kB)
K011221155-1-2.pdf
Download (309kB)
K011221155-dp.pdf
Download (209kB)
K011221155-fulllll.pdf
Restricted to Repository staff only until 6 April 2028.
Download (3MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang: Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang sering dialami oleh orang dengan HIV (ODHIV), terutama di kalangan Lelaki Seks Lelaki (LSL). Secara global, prevalensi depresi pada ODHIV berkisar antara 28% hingga 47%, dengan estimasi 12 hingga 19 juta orang mengalami depresi terkait HIV. Di Indonesia, dari 566.707 ODHIV, sekitar 37,8% diperkirakan mengalami depresi. Di Sulawesi Selatan, kasus HIV meningkat dari 1.490 kasus pada 2021 menjadi 2.135 kasus pada 2024, dengan LSL menyumbang lebih dari 35% kasus baru. Puskesmas Jumpandang Baru di Kota Makassar melayani 802 ODHIV aktif, 60–70% adalah LSL. Depresi berdampak negatif pada kualitas hidup dan keberhasilan terapi ARV. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan gejala depresi pada LSL dengan HIV di Puskesmas Jumpandang Baru, meliputi umur, stigma, kualitas hidup, lama menderita HIV, dan dukungan sosial. Metode: Desain penelitian cross- sectional dengan sampel 116 LSL dengan HIV. Data dikumpulkan melalui kuesioner valid dan reliabel: PHQ-9, Berger HIV Stigma Scale, WHOQOL-HIV BREF, dan kuesioner dukungan sosial MOS-SSS. Analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan signifikansi 0,05. Hasil: Mayoritas responden berusia 21-30 tahun (47,4%), stigma rendah (69,8%), kualitas hidup baik (72,4%), lama menderita ≥32 bulan (59,5%), dan dukungan sosial baik (56,0%). Sebanyak 23,3% mengalami gejala depresi. Umur tidak berhubungan signifikan (p=0,258), sedangkan stigma (p=0,020), kualitas hidup (p=0,006), lama menderita (p=0,002), dan dukungan sosial (p=0,023) berhubungan signifikan dengan gejala depresi. Kesimpulan: Stigma tinggi, kualitas hidup buruk, fase awal diagnosis, dan dukungan sosial kurang meningkatkan risiko depresi pada LSL dengan HIV. Perlu edukasi untuk mengurangi stigma, meningkatkan kualitas hidup, memperkuat dukungan sosial, dan fokus pada fase awal diagnosis untuk mencegah dan menangani depresi.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Gejala; Depresi; ODHIV; LSL; Faktor |
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Kesehatan Masyarakat |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 24 Aug 2026 07:19 |
| Last Modified: | 24 Aug 2026 07:19 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57229 |
