THE RELATIONSHIP OF FEV1/FVC RATIO, FEF 25-75% AND CARBON MONOXIDE LEVELS AS A PULMONARY FUNCTION PARAMETERS IN SMOKERS=THE RELATIONSHIP OF FEV1/FVC RATIO, FEF 25-75% AND CARBON MONOXIDE LEVELS AS A PULMONARY FUNCTION PARAMETERS IN SMOKERS


BALQIS, MUTIARA (2026) THE RELATIONSHIP OF FEV1/FVC RATIO, FEF 25-75% AND CARBON MONOXIDE LEVELS AS A PULMONARY FUNCTION PARAMETERS IN SMOKERS=THE RELATIONSHIP OF FEV1/FVC RATIO, FEF 25-75% AND CARBON MONOXIDE LEVELS AS A PULMONARY FUNCTION PARAMETERS IN SMOKERS. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of COVER] Image (COVER)
C185221005-kQqlfbhnsDuLVK7e-20260305230512.jpg

Download (356kB)
[thumbnail of BAB 1-2] Text (BAB 1-2)
C185221005-1-2.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of DAPUS] Text (DAPUS)
C185221005-dp.pdf

Download (136kB)
[thumbnail of FULL TEKS] Text (FULL TEKS)
C185221005-fullll.pdf
Restricted to Registered users only until 5 March 2028.

Download (2MB)

Abstract (Abstrak)

Latar Belakang: Merokok merupakan faktor risiko utama gangguan fungsi paru yang dapat menyebabkan perubahan struktural dan fungsional pada saluran napas. Paparan asap rokok dalam jangka panjang dapat menimbulkan inflamasi kronik, stres oksidatif, serta remodeling saluran napas yang akhirnya menyebabkan penurunan fungsi paru. Rasio FEV₁/FVC sering digunakan untuk menilai obstruksi jalan napas besar, sedangkan FEF₂₅–₇₅% dianggap lebih sensitif dalam mendeteksi gangguan saluran napas kecil. Kadar karbon monoksida ekshalasi (exhaled carbon monoxide/eCO) merupakan biomarker objektif pajanan rokok aktif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara rasio FEV₁/FVC, FEF₂₅–₇₅%, dan kadar karbon monoksida ekshalasi sebagai parameter penilaian fungsi paru pada perokok. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional). Subjek penelitian adalah perokok yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik merokok (lama merokok dan jumlah rokok per hari), pemeriksaan spirometri untuk menilai rasio FEV₁/FVC dan FEF₂₅–₇₅%, serta pengukuran kadar karbon monoksida ekshalasi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji bivariat, korelasi, serta analisis multivariat untuk menentukan faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru. Hasil: Sebagian besar subjek penelitian masih memiliki rasio FEV₁/FVC dalam batas normal, namun proporsi penurunan FEF₂₅–₇₅% relatif lebih tinggi yang menunjukkan adanya gangguan fungsi saluran napas kecil. Analisis bivariat menunjukkan bahwa rasio FEV₁/FVC tidak berhubungan secara bermakna dengan kadar karbon monoksida ekshalasi (p>0,05). Sebaliknya, FEF₂₅–₇₅% menunjukkan hubungan bermakna dengan kadar karbon monoksida ekshalasi (p=0,041). Kadar eCO juga meningkat seiring dengan bertambahnya durasi dan intensitas merokok. Analisis korelasi menunjukkan hubungan negatif sedang antara kadar eCO dan FEF₂₅–₇₅% (r = −0,36; p = 0,011). Pada analisis multivariat, FEF₂₅–₇₅% merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan gangguan fungsi paru pada perokok (OR 0,91; IK95% 0,85–0,98; p = 0,012). Kesimpulan: FEF₂₅–₇₅% merupakan parameter yang lebih sensitif dibandingkan rasio FEV₁/FVC dalam mendeteksi gangguan fungsi paru dini pada perokok. Kadar karbon monoksida ekshalasi berhubungan dengan gangguan fungsi saluran napas kecil dan mencerminkan pajanan rokok aktif. Evaluasi fungsi paru pada perokok sebaiknya tidak hanya menggunakan rasio FEV₁/FVC, tetapi juga memasukkan parameter FEF₂₅–₇₅% serta pemeriksaan eCO untuk mendeteksi gangguan paru secara lebih dini.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: smoking, FEV₁/FVC, FEF₂₅–₇₅%, exhaled carbon monoxide, pulmonary function
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > PPDS - Pulmonologi
Depositing User: Unnamed user with username pkl2
Date Deposited: 24 Aug 2026 02:21
Last Modified: 24 Aug 2026 02:21
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57156

Actions (login required)

View Item
View Item