PROFIL KIMIA DARAH SAPI YANG MENGALAMI REPEAT BREEDING SYNDROME PASCA SINKRONISASI ESTRUS DENGAN KOMBINASI PROSTAGLANDIN F-2α DAN ESTRADIOL


ABELIA, PUTRI (2026) PROFIL KIMIA DARAH SAPI YANG MENGALAMI REPEAT BREEDING SYNDROME PASCA SINKRONISASI ESTRUS DENGAN KOMBINASI PROSTAGLANDIN F-2α DAN ESTRADIOL. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of COVER] Image (COVER)
C031221033-daGlIjzU4Kv2uQ8R-20260314133521.jpg

Download (380kB)
[thumbnail of BAB 1-2] Text (BAB 1-2)
C031221033-1-2.pdf

Download (592kB)
[thumbnail of DAPUS] Text (DAPUS)
C031221033-dp.pdf

Download (336kB)
[thumbnail of FULL TEKS] Text (FULL TEKS)
C031221033-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 12 March 2028.

Download (4MB)

Abstract (Abstrak)

Repeat Breeding Syndrome (RBS) merupakan gangguan reproduksi pada sapi betina yang ditandai dengan kegagalan bunting setelah beberapa kali inseminasi buatan meskipun memiliki siklus estrus normal. Kondisi ini menurunkan efisiensi reproduksi dan menyebabkan kerugian ekonomi. Ketidakseimbangan metabolik dan nutrisi yang tercermin pada profil kimia darah diduga berperan dalam kegagalan kebuntingan pada sapi RBS, termasuk setelah dilakukan sinkronisasi estrus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kimia darah pada sapi yang mengalami Repeat Breeding Syndrome setelah sinkronisasi estrus menggunakan kombinasi prostaglandin F-2α dan estradiol serta inseminasi buatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yang dilakukan pada sepuluh ekor sapi betina usia 3–7 tahun yang mengalami Repeat Breeding Syndrome. Sinkronisasi estrus dilakukan dengan penyuntikan PGF-2α dan estradiol secara intramuskuler, diikuti inseminasi buatan 24–48 jam kemudian. Sampel darah dikoleksi saat inseminasi buatan dan dianalisis menggunakan automated chemical analyzer untuk menilai parameter kimia darah. Dari sepuluh ekor sapi yang diamati, tidak terdapat sapi yang mengalami kebuntingan (0% kebuntingan). Sebanyak tiga ekor sapi (30%) menunjukkan respons estrus dengan intensitas sedang (grade 3), sedangkan tujuh ekor sapi lainnya (70%) hanya memperlihatkan estrus lemah (grade 2). Profil kimia darah menunjukkan adanya perubahan pada beberapa parameter, yaitu kadar albumin yang rendah, peningkatan aktivitas ALT, amylase, dan creatine kinase, rasio BUN/Creatinin yang tinggi, kadar trigliserida tinggi, serta konsentrasi kalsium di bawah kisaran normal, sementara parameter kimia darah lainnya masih berada dalam batas fisiologis. Profil kimia darah sapi Repeat Breeding Syndrome pasca sinkronisasi estrus menunjukkan adanya ketidakseimbangan metabolik dan nutrisi yang diduga berperan dalam kegagalan kebuntingan meskipun telah dilakukan sinkronisasi hormon dan inseminasi buatan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Repeat Breeding Syndrome; Sapi; Kimia Darah; Sinkronisasi Estrus
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter Hewan
Depositing User: Nasyir Nompo
Date Deposited: 26 Aug 2026 03:41
Last Modified: 26 Aug 2026 03:41
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57042

Actions (login required)

View Item
View Item