Kekerasan Media Pada Anarko (Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Demonstrasi Peringatan Darurat di Makassar) = MEDIA VIOLENCE AGAINST ANARCHISTS (A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF COVERAGE OF THE EMERGENCY WARNING DEMONSTRATION IN MAKASSAR)


PRIANUGRAHA, ARYA NUR (2026) Kekerasan Media Pada Anarko (Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Demonstrasi Peringatan Darurat di Makassar) = MEDIA VIOLENCE AGAINST ANARCHISTS (A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF COVERAGE OF THE EMERGENCY WARNING DEMONSTRATION IN MAKASSAR). Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of COVER]
Preview
Image (COVER)
E022232096-5Ahe24fFoD7lJvOs-20260226151407.jpg

Download (251kB) | Preview
[thumbnail of BAB 1-2] Text (BAB 1-2)
E022232096-1-2.pdf

Download (406kB)
[thumbnail of DAPUS] Text (DAPUS)
E022232096-dp.pdf

Download (221kB)
[thumbnail of FULL TEXT] Text (FULL TEXT)
E022232096-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 9 February 2028.

Download (3MB)

Abstract (Abstrak)

Media tidak hanya melanggengkan kesalahpahaman terhadap anarkisme. Tetapi juga telah menjadi aparatus ideologi negara. Anarkisme tidak lagi dianggap sebagai paham politik, dan penganutnya, anarko, digambarkan sebagai perusuh. Penelitian ini membongkar bagaimana media melakukan kekerasan terhadap anarko, mengacu pada teori kekerasan budaya Johan Galtung. Di saat yang sama, berusaha menjelaskan kepada publik bahwa anarkisme bukan hanya soal kekerasan, tapi lebih dari itu. Punya cita-cita yang mulia untuk mewujudkan dunia tanpa penindasan. Media yang dianalisis adalah Fajar Online, Detik Sulsel, CNN Indonesia, Kompas.com, Herald Sulsel, dan IDN Times. Tiap media, ada satu berita yang dianalisis, terutama yang terkait dengan demonstrasi Peringatan Darurat di Makassar. Analisis Wacan Kritis model eksklusi dan inklusi Theo Van Leeuwen digunakan untuk melihat bagaimana anarko direpresentasikan. Selain itu ditopang teori kritis, seperti hegemoni Antonio Gramsci, aparatus ideologi negara Louis Althuser, dam propaganda dari Jacques Ellul. Enam berita yang dianalisis, menunjukkan media melakukan kekerasan terhadap anarko. Kekerasan media dimaksud, karena media melegitimasi kekerasan langsung berupa pemukulan dan penembakan air mata, serta kekerasan struktural berupa penangkapan kepada demonstran yang dituduh anarko. Kelirunya penggunaan kata anarkisme dan turunannya, tidak hanya karena jurnalis tidak paham dengan jurnalistik atau topik yang diliput. Ada media yang jurnalisnya memang memahami dengan fasih jurnalisme, tapi pemahamannya soal anarkisme keliru. Mereka ini telah terhegemoni wacana kekuasaan soal anarkisme, bahwa anarkisme adalah kekacauan.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: Kata Kunci: Media, Kekerasan Budaya, Anarko, Anarkisme, Theo Van Leeuwen
Subjects: P Language and Literature > PN Literature (General)
P Language and Literature > PN Literature (General) > PN1990 Broadcasting
Divisions (Program Studi): Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
Depositing User: Unnamed user with username pkl2
Date Deposited: 24 Jun 2026 03:07
Last Modified: 24 Jun 2026 03:07
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/56222

Actions (login required)

View Item
View Item