SULVINAJAYANTI, SULVINAJAYANTI (2025) MODEL KOMUNIKASI BERBASIS PENGUATAN BUDAYA LOKAL DAN OPINION LEADER DALAM MEMBANGUN MODERASI BERAGAMA DI SULAWESI SELATAN = A COMMUNICATION MODEL BASED ON STRENGTHENING LOCAL CULTURE AND OPINION LEADERS IN BUILDING RELIGIOUS MODERATION IN SOUTH SULAWESI. Disertasi thesis, Universitas Hasanuddin.
E033221006-f13BXhwS4eLvWn6A-20250915162712.png
Download (115kB) | Preview
E033221006-1-2.pdf
Download (1MB)
E033221006-dp.pdf
Download (284kB)
E033221006-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 20 August 2027.
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Latar belakang. Budaya lokal dan peran opinion leader merupakan dua pilar strategis dalam membangun moderasi beragama di wilayah multikultural. Di Parepare, nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge berpadu dengan tradisi tudang sipulung, mappadendang, dan mappalili sebagai etika dialog dan resolusi konflik, sedangkan di Tana Toraja adat Tongkonan, kepercayaan Aluk Todolo, serta ritus Rambu Solo’, Rambu Tuka’, dan Ma’kombongan berfungsi sebagai wahana solidaritas lintas iman. Tujuan. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi dan menganalisis nilai budaya lokal yang mendukung moderasi beragama di kedua wilayah; (2) memetakan peran strategis opinion leader dalam memperkuat moderasi beragama; dan (3) merumuskan model komunikasi strategis berbasis kearifan lokal dan jejaring opinion leader yang adaptif terhadap konteks urban-rural. Metode. Pendekatan kualitatif-interpretatif dengan desain etnografi komunikasi digunakan, memadukan etnografi komunikasi, stakeholder theory, diffusion of innovations, dan multi-step flow communication. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, analisis dokumen, serta analisis konten digital, dianalisis menggunakan grounded theory (open, axial, selective coding) dan perangkat SPEAKING Hymes. Hasil. Penelitian menemukan bahwa nilai-nilai budaya lokal di kedua wilayah masih hidup dan relevan sebagai legitimasi sosial untuk membangun toleransi dan harmoni. Terdapat tujuh kategori opinion leader yang berperan dalam siklus komunikasi strategis mediasi, edukasi, negosiasi, koeksistensi, dan konfirmasi yang terintegrasi dalam model Hepta Helix of Local-Value-Based Religious Moderation. Studi kasus resistensi pendirian Sekolah Kristen Gamaliel di Parepare dan praktik Rambu Solo’ di Tana Toraja membuktikan efektivitas kombinasi nilai lokal, kolaborasi multiaktor, dan media tatap muka-digital dalam meredam konflik dan membangun social trust. Simpulan. Integrasi nilai budaya lokal dengan jejaring opinion leader dan strategi komunikasi multiaktor terbukti efektif memperkuat moderasi beragama, dan model ini berpotensi direplikasi pada wilayah multikultural lain di Indonesia.
| Item Type: | Thesis (Disertasi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | harmoni sosial; kearifan lokal; kolaborasi multiaktor; komunikasi strategis; opinion leader; toleransi. |
| Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 18 Jun 2026 02:37 |
| Last Modified: | 18 Jun 2026 02:37 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/56142 |
