Biomassa dan Sebaran Padang Lamun sebagai Habitat Makan Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Bira = Seagrass Distribution and Biomass as Vital Feeding Habitat for Green Sea Turtle


ANGGI, ANGGI (2026) Biomassa dan Sebaran Padang Lamun sebagai Habitat Makan Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Bira = Seagrass Distribution and Biomass as Vital Feeding Habitat for Green Sea Turtle. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of Cover]
Preview
Image (Cover)
L011221086-Cover.jpg

Download (89kB) | Preview
[thumbnail of Bab1-2] Text (Bab1-2)
L011221086-1-2(FILEminimizer).pdf

Download (2MB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
L011221086-dp(FILEminimizer).pdf

Download (754kB)
[thumbnail of Full Text] Text (Full Text)
L011221086-fullll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 6 March 2028.

Download (843kB)

Abstract (Abstrak)

Latar belakang. Ekosistem padang lamun adalah suatu ekosistem yang kompleks dan memiliki fungsi dan manfaat yang sangat signifikan bagi perairan wilayah pesisir. Lamun dapat melindungi pantai dari hempasan ombak, membantu penyerapan karbon, dan merupakan makanan penting bagi biota laut, seperti penyu hijau, dalam bentuk biomassa. Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan jenis penyu yang banyak ditemukan di Indonesia, namun jumlahnya telah mengalami penurunan sehingga saat ini tergolong satwa langka yang dilindungi (IUCN Red list dan CITES Appendix 1). Meskipun hubungan ketersediaan lamun dan penyu sangat berkaitan, namun sampai saat ini, belum banyak penelitian di Indonesia yang secara langsung mengaitkan nilai biomassa lamun dengan pemanfaatan habitat oleh penyu hijau. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara biomassa lamun dengan tingkat pemanfaatan padang lamun oleh penyu hijau, guna mengetahui apakah biomassa lamun memengaruhi intensitas kehadiran penyu hijau, serta sebaliknya, apakah aktivitas makan penyu hijau berdampak terhadap kerentanan padang lamun sebagai habitat pakan. Metode. Pengambilan data dilakukan pada beberapa stasiun pengamatan menggunakan metode transek kuadrat. Parameter yang diamati meliputi kerapatan jenis, persentase tutupan, distribusi, frekuensi kemunculan, dan biomassa lamun, serta parameter lingkungan. Pengamatan kemunculan dan aktivitas makan penyu dilakukan melalui observasi visual menggunakan monokuler, perekaman drone, dan perekaman bawah laut. Hasil. Terdapat 9 jenis lamun dari seluruh stasiun pengamatan. Thalassia hemprichii merupakan jenis yang menyumbang biomassa paling besar. Kondisi padang lamun secara umum masih tergolong baik, ditunjukkan oleh nilai biomassa dan tutupan yang relatif tinggi meskipun pada beberapa stasiun ditemukan area kosong diduga akibat aktivitas makan penyu. Stasiun dengan biomassa yang tinggi tidak selalu diikuti oleh jumlah kehadiran penyu hijau yang tinggi, namun durasi penyelaman penyu hijau cenderung lebih singkat pada stasiun tersebut, yang mengindikasikan efisiensi aktivitas makan. Interaksi antara penyu hijau dan padang lamun pada lokasi penelitian ini menunjukkan hubungan yang relatif seimbang. Biomassa lamun memengaruhi efisiensi pemanfaatan oleh penyu, sementara aktivitas penyu tidak secara langsung meningkatkan kerentanan padang lamun sebagai habitat makan.

Keyword : biomassa lamun; penyu hijau; aktivitas makan penyu; bira.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Seagrass biomass; green turtle; foraging activity; bira.
Subjects: Q Science > Q Science (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan > Ilmu Kelautan
Depositing User: Rasman
Date Deposited: 22 Apr 2026 01:58
Last Modified: 22 Apr 2026 01:58
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/55292

Actions (login required)

View Item
View Item