HIDAYAT, ADE AKMAL (2025) HUBUNGAN PEMBERIAN TERAPI OBAT ANTI BANGKITAN (OAB) TERHADAP KADAR SERUM KALSIUM PADA PASIEN EPILEPSI = THE RELATIONSHIP BETWEEN ANTIEPILEPTIC DRUG (AED) THERAPY AND SERUM CALCIUM LEVELS IN EPILEPSY PATIENTS. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
C155212002-SzVr1lLIji2yoa5w-20251007154102.jpg
Download (415kB) | Preview
C155212002-1-2.pdf
Download (977kB)
C155212002-dp.pdf
Download (488kB)
C155212002-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 29 September 2027.
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Epilepsi adalah gangguan neurologis kronis yang memerlukan penatalaksanaan jangka panjang dengan obat anti epilepsi (OAB). Walaupun efektif dalam mengendalikan kejang, terapi OAB telah dikaitkan dengan gangguan metabolisme kalsium yang berpotensi menimbulkan komplikasi terkait tulang. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara terapi OAB dengan kadar kalsium serum pada pasien epilepsi. Desain penelitian menggunakan metode potong lintang (cross- sectional) yang dilaksanakan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dan rumah sakit jejaringnya pada bulan Juli hingga September 2025. Sebanyak 50 pasien epilepsi yang menjalani terapi OAB direkrut. Kadar kalsium serum diukur menggunakan metode ELISA, dan analisis statistik dilakukan dengan SPSS versi 25.0 pada tingkat signifikansi p < 0,05. Rerata kadar kalsium serum adalah 8,69 ± 0,38 mg/dL. Ditemukan perbedaan bermakna antara kelompok berdasarkan durasi terapi, di mana pasien yang menjalani terapi lebih dari satu tahun menunjukkan kadar kalsium lebih rendah dibandingkan pasien dengan terapi kurang dari satu tahun (p = 0,000). Kadar kalsium juga berbeda signifikan antar kelas OAB, khususnya antara obat golongan induktor enzim dan non-induktor (p = 0,005). Analisis post hoc menunjukkan perbedaan bermakna antara pengguna fenitoin dan levetiracetam (p = 0,039). Analisis korelasi memperlihatkan hubungan negatif antara durasi terapi dan kadar kalsium (r = –0,492; p = 0,000). Kesimpulan: Kadar kalsium serum pada pasien epilepsi sangat dipengaruhi oleh kelas OAB dan durasi terapi, dengan obat induktor enzim seperti fenitoin memberikan dampak terbesar. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan rutin kadar kalsium serta langkah pencegahan dini pada pasien yang menjalani terapi OAB jangka panjang.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Epilepsi, Obat anti epilepsi; Kalsium serum, OAB induktor enzim, Metabolisme tulang |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Penyakit Saraf |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 06 Apr 2026 04:58 |
| Last Modified: | 06 Apr 2026 04:58 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/54943 |
