LESTARI, DIAN (2025) HUBUNGAN KONSUMSI GARAM BERYODIUM DENGAN EKSKRESI YODIUM DALAM URIN DAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI KABUPATEN TAKALAR = ASSOCIATION OF IODIZED SALT INTAKE WITH URINARY IODINE EXCRETION AND THE INCIDENCE OF ANEMIA AMONG PREGNANT WOMEN IN TAKALAR DISTRICT. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
K042232014-AhdoUPRgwjIO5qrH-20260119151239.png
Download (559kB) | Preview
K042232014-1-2.pdf
Download (376kB)
K042232014-dp.pdf
Download (173kB)
K042232014-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 12 December 2027.
Download (3MB)
Abstract (Abstrak)
DIAN LESTARI. Hubungan Konsumsi Garam Beryodium Terhadap Ekskresi Yodium Dalam Urin Dan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Di Kabupaten Takalar (dibimbing oleh Veni Hadju dan Abdul Salam). Latar Belakang: Anemia selama kehamilan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena dapat berdampak buruk pada ibu dan janin. Hubungan antara konsumsi garam beryodium, ekskresi yodium urin, dan kejadian anemia masih jarang diteliti, terutama di wilayah pesisir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara konsumsi garam beryodium dengan ekskresi yodium dalam urin dan kejadian anemia pada ibu hamil di Kabupaten Takalar. Metode: Penelitian cross sectional ini melibatkan 291 ibu hamil di wilayah pesisir Kabupaten Takalar dengan menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur, pemeriksaan kadar yodium dalam garam menggunakan alat tes yodium, pemeriksaan hemoglobin melalui pemeriksaan darah lengkap, serta pemeriksaan ekskresi yodium urin menggunakan spektrofotometer. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square (<0,005). Hasil: Responden dalam penelitian ini merupakan ibu hamil pada trimester pertama dan kedua, dengan mayoritas berusia 20–35 tahun (77,8%), berpendidikan di bawah tingkat SMP (44%), dan memiliki suami yang bekerja sebagai nelayan atau buruh (53,3%). Sebanyak 61,8% ibu hamil mengalami defisiensi yodium berdasarkan ekskresi yodium urin, dan 53,6% mengonsumsi garam beryodium pada tingkat yang tidak memadai. Prevalensi anemia sebesar 14%. Analisis menunjukkan bahwa 72% perempuan dengan konsumsi garam beryodium rendah mengalami defisiensi yodium, dibandingkan dengan 50% pada kelompok dengan konsumsi yang cukup (p < 0,005). Selain itu, 24,2% ibu pada kelompok konsumsi garam rendah mengalami anemia, dibandingkan dengan hanya 2,2% pada kelompok dengan konsumsi garam yang cukup (p < 0,005). Berdasarkan kadar yodium urin, 21% perempuan dengan defisiensi yodium mengalami anemia, jauh lebih tinggi dibandingkan 2,7% pada mereka dengan asupan yodium yang cukup (p < 0,005). Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi garam beryodium, ekskresi yodium dalam urin, dan kejadian anemia.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | defisiensi yodium, ekskresi yodium urin, konsumsi garam beryodium, anemia |
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Ilmu Gizi |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 27 Feb 2026 03:11 |
| Last Modified: | 27 Feb 2026 03:11 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/54136 |
