BASRUM, SABRIANTI (2025) Fitur Bahasa Laki-laki dan Perempuan dalam Film "On the Basis of Sex" : Pendekatan Sosiolinguistik = Men's and Women's Language Features in the "On the Basis of Sex" Film : Sociolinguistics Approach. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
F041211080-Cover.jpg
Download (50kB) | Preview
F041211080-1-2(FILEminimizer).pdf
Download (216kB)
F041211080-dp(FILEminimizer).pdf
Download (140kB)
F041211080-full(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 8 August 2027.
Download (1MB)
Abstract (Abstrak)
SABRIANTI BASRUM, 2025. Fitur Bahasa Laki-Laki dan Perempuan dalam Film “On the Basis of Sex”: Pendekatan Sosiolinguistik (dibimbing oleh Kamsinah dan Karmila Mokoginta) Latar belakang. Perubahan pandangan masyarakat terhadap relasi gender turut memengaruhi praktik berbahasa. Gaya bahasa antara laki-laki dan perempuan tidak lagi bersifat mutlak, melainkan dibentuk oleh konteks sosial dan peran yang mereka jalani. Fenomena ini menarik untuk dikaji melalui film sebagai bentuk representasi budaya. Oleh karena itu, Penulis memilih film On the Basis of Sex sebagai objek penelitian. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fitur bahasa laki-laki, mengidentifikasi fitur bahasa perempuan serta menelaah bagaimana penggunaan bahasa dalam film On the Basis of Sex mencerminkan kesetaraan gender. Metode. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tokoh laki-laki dalam film menggunakan fitur bahasa laki-laki, yaitu: minimal respon (6), perintah dan arahan (36), pujian (10), kata tabu dan umpatan (2), serta pertanyaan (80). Sementara itu, tokoh perempuan juga menggunakan 7 minimal respon (7), perintah dan arahan (23), pujian (5), kata tabu dan umpatan (9), serta pertanyaan (66). (2) Untuk fitur bahasa perempuan, tokoh perempuan menggunakan hedges (15), polite form (12), tag questions (2), intensifiers (16), empty adjectives (7), hypercorrect grammar (5), intonasi naik dalam kalimat deklaratif (20), dan penekanan empatik (22). Tokoh laki-laki juga menunjukkan fitur serupa: hedges (16), polite form (9), tag question (1), intensifiers (22), empty adjectives (6), hypercorrect grammar (8), penghindaran kata kasar (2), intonasi naik dalam deklaratif (36), dan penekanan empatik (14). (3) Dari data tersebut ditemukan fenomena fitur Bahasa yang saling tumpang tindih yang mana laki-laki dapat menggunakan fitur bahasa perempuan dan perempuan dapat menggunakan fitur bahasa laki-laki. Jelas ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa dalam film “On the Basis of Sex” tidak sepenuhnya mengikuti stereotip linguistik tradisional yang mengotakkan fitur bahasa berdasarkan gender. Baik tokoh laki-laki maupun perempuan menunjukkan fleksibilitas dalam penggunaan fitur bahasa, yang mencerminkan adanya perubahan dalam konstruksi sosial mengenai peran gender. Dengan kata lain, bahasa dalam film ini mencerminkan dinamika yang semakin setara antara laki-laki dan perempuan. Kesimpulan. Film ini merepresentasikan kesetaraan gender tidak hanya melalui tindakan para tokohnya, tetapi juga melalui praktik bahasa yang digunakan, di mana tokoh laki-laki dan perempuan tidak lagi terikat pada fitur bahasa tradisional berbasis gender, melainkan berbicara sesuai dengan konteks sosial.
Kata Kunci: sosiolinguistik, gender, fitur bahasa, kesetaraan gender, film.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | sociolinguistics, gender, language features, gender equality, film. |
| Subjects: | P Language and Literature > PR English literature |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Ilmu Budaya > Sastra Inggris |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 12 Feb 2026 06:57 |
| Last Modified: | 12 Feb 2026 06:57 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/53523 |
