SUKRIMING, MUH. FATHUR (2025) Potensi Serapan Karbon pada Ekosistem Mangrove di Borong Kalukua dan Bonto Bahari, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan = Carbon Absorption Potential in Mangrove Ecosystems in Borong Kalukua and Bonto Bahari, Maros Regency, South Sulawesi. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
L021201022-W1FpidbmKlMtyTIQ-20250929151104.jpg
Download (198kB) | Preview
L021201022-1-2.pdf
Download (164kB)
L021201022-dp.pdf
Download (88kB)
L021201022- TEXT.pdf
Restricted to Repository staff only until 16 June 2027.
Download (1MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuan menyerap dan menyimpan karbon terutama dalam bentuk karbon organik yang terakumulasi di sedimen. Sedimen mangrove dapat menyimpan karbon hingga ribuan tahun dan kedalaman 6 meter serta berperan dalam mengurangi erosi dan meningkatkan kestabilan ekosistem. Kontribusi ini menjadikan mangrove sebagai komponen kunci dalam pengendalian perubahan iklim global. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan nilai bulk density, kandungan karbon organik dan stok karbon organik sedimen pada dua lokasi mangrove yaitu Borong Kalukua dan Bonto Bahari di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Metode. Pengambilan data dilakukan dengan pemasangan tiga transek secara acak pada setiap stasiun, masing-masing transek dilengkapi tiga petak berukuran 10×10 m dengan jarak antar petak 10 m. Sampel sedimen mangrove diambil menggunakan corer (tinggi 50 cm, diameter 7,5 cm) secara vertikal hingga kedalaman 50 cm. Setiap transek dilakukan tiga kali pengambilan. Sampel yang diperoleh dibelah horizontal dan dianalisis di laboratorium. Hasil. Perbedaan signifikan antara Borong Kalukua dan Bonto Bahari dalam nilai bulk density, kandungan karbon organik dan stok karbon organik sedimen. Borong Kalukua memiliki bulk density lebih tinggi dan akumulasi karbon organik yang meningkat secara konsisten dengan kedalaman, menunjukkan kondisi sedimen yang stabil dan mendukung penyimpanan karbon. Sebaliknya, Bonto Bahari memiliki bulk density lebih rendah dan kandungan karbon yang fluktuatif, mengindikasikan sedimen yang lebih gembur dan pengaruh dinamika lingkungan yang lebih besar. Kesimpulan. Temuan ini penting untuk mendukung konservasi dan pengelolaan ekosistem mangrove. Informasi mengenai perbedaan karakteristik kedua lokasi dapat menjadi dasar dalam penetapan prioritas rehabilitasi mangrove, perhitungan cadangan karbon biru serta penyusunan kebijakan berbasis data oleh pemerintah dan pengelola wilayah pesisir.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Mangrove, Bulk density, karbon organik, sedimen, karbon biru. |
| Subjects: | S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan > Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 09 Feb 2026 03:15 |
| Last Modified: | 12 Feb 2026 06:13 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/53193 |
