Efek Pemberian Regimen Obat Anti Tuberkulosis Non Bedaquiline Terhadap Pemanjangan Interval QTc pada Pasien Tuberkulosis Resisten Obat = Effect of Non Bedaquiline Regimen on Prolongation of QTc Interval in Drug Resistant Tuberculosis Patients


Naibaho, WINONA MITCHELIN (2025) Efek Pemberian Regimen Obat Anti Tuberkulosis Non Bedaquiline Terhadap Pemanjangan Interval QTc pada Pasien Tuberkulosis Resisten Obat = Effect of Non Bedaquiline Regimen on Prolongation of QTc Interval in Drug Resistant Tuberculosis Patients. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of Cover]
Preview
Image (Cover)
C165201002-Cover.jpg

Download (379kB) | Preview
[thumbnail of Bab1-2] Text (Bab1-2)
C165201002-1-2(FILEminimizer).pdf

Download (139kB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
C165201002-dp(FILEminimizer).pdf

Download (86kB)
[thumbnail of Full Text] Text (Full Text)
C165201002-fulll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 22 January 2027.

Download (795kB)

Abstract (Abstrak)

Latar belakang. Tuberkulosis resistan obat (TB RO) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di banyak negara di dunia. Paduan pengobatan TB lini kedua pada pasien TB RO terdiri dari beberapa obat. Selain obat Bedaquiline, beberapa obat lainnya yaitu Moxifloxacin, Levofloxacin, Clofazimin, dan Delamanid diketahui dapat menyebabkan terjadinya efek samping berupa pemanjangan interval QTc. Tujuan. Untuk mengetahui efek terapi regimen non Bedaquiline pada pasien TB RO terhadap pemanjangan interval QTc. Metode. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif yang menganalisis rekam medis 50 pasien TB RO yang menjalani pengobatan sejak Januari 2023 sampai November 2024 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji, Makassar. Hasil. Dari 50 sampel penelitian terdapat 27 (54%) subjek yang mengalami pemanjangan interval QTc. Analisis post-hoc menunjukkan perbedaan yang signifikan antara baseline dengan pengukuran pada bulan 7 (p=0.002), bulan 8 (p=0.001), dan bulan 9 (p=0.017), namun tidak signifikan pada bulan 10 (p=0.137). Tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara usia (p=0.531), jenis kelamin (p=(p=0.054), diabetes mellitus (p=0.585), obesitas (p=0.674) terhadap pemanjangan interval QTc. Pasien yang menerima kombinasi Levofloxacin-Clofazimin-Linezolid- Sikloserin (Lfx-Cfz-Lzd-Cs) merupakan regimen yang paling sering digunakan pada kelompok dengan pemanjangan QTc (25.9%) meskipun tidak bermakna secara statistik (p=0.853). Even though a higher proportion of women showed QTc prolongation, it was not statistically significant. Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi regimen MDR-TB non- Bedaquiline memberikan efek pemanjangan interval QTc yang signifikan dan dinamis selama masa pengobatan 4 bulan.

Keyword : interval QTc, tuberkulosis, resisten.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: Prolonged QTc, tuberculosis, resistant.
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > PPDS - Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Depositing User: Rasman
Date Deposited: 13 Jan 2026 07:06
Last Modified: 13 Jan 2026 07:06
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/52505

Actions (login required)

View Item
View Item