ROCHMAN, FAUZAN (2025) PERBANDINGAN TATALAKSANA KOMBINASI FLUTICASONE FUROATE DAN CETIRIZINE DENGAN KOMBINASI FLUTICASONE FUROATE DAN MONTELUKAST TERHADAP RESPONSIBILITAS JALAN NAFAS PADA PASIEN RINITIS ALERGI DISERTAI ASMA BRONKIAL = COMPARISON OF TREATMENT WITH THE COMBINATION OF FLUTICASONE FUROATE AND CETIRIZINE VERSUS THE COMBINATION OF FLUTICASONE FUROATE AND MONTELUKAST ON AIRWAY RESPONSIVENESS IN PATIENTS WITH ALLERGIC RHINITIS AND BRONCHIAL ASTHMA. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
C035201004-patPDX5cgObJsnrB-20250624150328.jpg
Download (447kB) | Preview
C035201004-1-2.pdf
Download (1MB)
C035201004-dp.pdf
Download (969kB)
C035201004-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only until 26 February 2027.
Download (3MB)
Abstract (Abstrak)
Terapi kombinasi menggunakan kortikosteroid intranasal dengan antihistamin oral atau antagonis reseptor leukotrien merupakan standar penatalaksanaan untuk rinitis alergi persisten derajat sedang hingga berat, yang seringkali disertai dengan asma. Penelitian ini membandingkan dua rejimen terapi— fluticasone furoate dengan cetirizine versus fluticasone furoate dengan montelukast—terhadap fungsi hidung dan bronkus. METODE: Dalam studi kohort prospektif ini dengan penilaian sebelum dan sesudah pengobatan, sebanyak 30 pasien dengan rinitis alergi sedang–berat dan asma diikutsertakan di poliklinik THT Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (April–Desember 2024). Pasien dibagi secara berurutan ke dalam dua kelompok: Kelompok A (n = 15) menerima fluticasone furoate 110 μg/hari secara intranasal + cetirizine 10 mg/hari secara oral; dan Kelompok B (n = 15) menerima fluticasone furoate 110 μg/hari secara intranasal + montelukast 10 mg/hari secara oral. Efektivitas dievaluasi pada awal, minggu ke-2, dan minggu ke-4 melalui (1) skor total gejala hidung (Total Nasal Symptom Score/TNSS; menggunakan skala visual analog/Visual Analogue Scale \[VAS]), (2) rinomanometri aktif (resistensi dan aliran udara hidung), dan (3) spirometri (volume ekspirasi paksa detik pertama \[FEV₁] dan rasio FEV₁ terhadap kapasitas vital paksa \[FVC]). Analisis data menggunakan uji Shapiro–Wilk, Mann– Whitney, dan Friedman dengan α = 0,05. HASIL: Kedua rejimen menunjukkan penurunan TNSS yang signifikan pada minggu ke-4 (perubahan median VAS: Kelompok A –4,0; Kelompok B –3,8; p < 0,001 dibandingkan baseline), tanpa perbedaan yang signifikan antar kelompok (p = 0,42). Cetirizine memberikan perbaikan gejala yang lebih besar pada rinore, bersin, dan gejala okular, sementara montelukast lebih unggul dalam mengurangi sumbatan hidung pada fase awal. Parameter spirometri (ΔFEV₁ dan ΔFEV₁/FVC) dan hasil rinomanometri (penurunan resistensi hidung, peningkatan aliran udara) menunjukkan perbaikan yang serupa pada kedua kelompok (semua p > 0,05 antar kelompok). KESIMPULAN: Pada pasien rinitis alergi sedang–berat dengan asma, kombinasi fluticasone furoate + cetirizine maupun fluticasone furoate + montelukast sama-sama meningkatkan fungsi hidung dan bronkus secara signifikan dalam empat minggu, dengan keunggulan spesifik pada gejala tertentu di masing-masing rejimen. Penelitian acak berskala lebih besar dengan masa tindak lanjut lebih panjang diperlukan untuk memastikan efektivitas komparatif jangka panjang.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Cetirizine, Fluticasone Furoate, Antagonis Leukotrien, Sumbatan Hidung, Rinomanometri. |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Penyakit THT |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 15 Dec 2025 03:10 |
| Last Modified: | 15 Dec 2025 03:10 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/51481 |
