Komparasi Efektivitas Gel Madu Topikal 10% dan 20% Terhadap Diameter Luka Eksisi dan Kadar Glukosa Darah Hewan: Studi Awal Eksperimental Imunosupresi (Dexamethasone) dan Non-Imunosupresi = Comparison of the Effectiveness of 10% and 20% Topical Honey Gel on Excision Wound Diameter and Blood Glucose Levels in Animals: A Preliminary Experimental Study on Immunosuppression (Dexamethasone) and Non- Immunosuppression


PAKANGKA, ALIFA MUNAWWARAH MAKMUR (2025) Komparasi Efektivitas Gel Madu Topikal 10% dan 20% Terhadap Diameter Luka Eksisi dan Kadar Glukosa Darah Hewan: Studi Awal Eksperimental Imunosupresi (Dexamethasone) dan Non-Imunosupresi = Comparison of the Effectiveness of 10% and 20% Topical Honey Gel on Excision Wound Diameter and Blood Glucose Levels in Animals: A Preliminary Experimental Study on Immunosuppression (Dexamethasone) and Non- Immunosuppression. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of cover]
Preview
Image (cover)
C031211042-RvNWhCYToUSg2tp3-20250701150815.jpg

Download (467kB) | Preview
[thumbnail of bab 1-2] Text (bab 1-2)
C031211042-1-2.pdf

Download (5MB)
[thumbnail of dapus] Text (dapus)
C031211042-dp.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of full text] Text (full text)
C031211042-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only until 26 June 2027.

Download (15MB)

Abstract (Abstrak)

Latar belakang. Luka merupakan kerusakan fungsi jaringan dan struktur tubuh. Pada kondisi terganggunya kondisi kesehatan hewan, perawatan terbaik dan optimal dalam pengelolaan luka dapat dilakukan dengan mempertahankan lingkungan dalam keadaan lembab dengan menggunakan madu. Madu memiliki sifat fisikokimia spesifik yang mendukung penggunaannya sebagai agen terapeutik untuk memerangi beberapa infeksi mikroba. Khasiat madu ini juga dikaitkan dengan efek penyembuhan luka, potensi anti-inflamasi, antioksidan, dan kemampuan menangkal radikal bebas. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan efektivitas gel madu topikal 10% dan 20% dalam memengaruhi diameter luka eksisi dan kadar glukosa darah pada hewan, baik dalam kondisi imunosupresi (induksi dexamethasone) maupun non-imunosupresi. Metode. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 24 ekor tikus wistar (Rattus norvegicus) yang dibagi ke dalam 8 kelompok perlakuan. Perlakuan dilakukan selama 14 hari, pada hari ke-1, 7, dan 14 dilakukan pemeriksaan glukosa darah dan pengamatan diameter luka. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan urutan penyembuhan luka berdasarkan kadar glukosa darah dan diameter luka antara dua kelompok. Pada kelompok non-imunosupresi, urutan penyembuhan terbaik dimulai dari K- (tanpa perlakuan), diikuti KP3 (gel madu 10%), KP4 (gel madu 20%), dan K+ (povidone iodine). Sebaliknya, untuk kelompok imunosupresi, urutan penyembuhan terbaik adalah K-2 (tanpa perlakuan), KP1 (gel madu 10%), KP2 (gel madu 20%), dan K+2 (povidone iodine). Kesimpulan. Kelompok kontrol negatif menunjukkan penyembuhan luka yang paling baik dibandingkan kelompok lainnya, namun terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan bias dan ketidakakuratan dalam hasil penelitian. Terlepas dari itu, kelompok gel madu topikal menunjukkan perbaikan luka yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol positif yang menggunakan povidone iodine.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Kata kunci: imunosupresi; luka; terapi topikal; tikus wistar.
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter Hewan
Depositing User: Unnamed user with username pkl2
Date Deposited: 15 Dec 2025 02:18
Last Modified: 15 Dec 2025 02:18
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/51468

Actions (login required)

View Item
View Item