RHOBBIGFIRLY, MUHAMMAD UNGGUL (2025) Hubungan derajat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dengan Sarkopenia = ASSOCIATION BETWEEN SEVERITY OF CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD) AND SARCOPENIA. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
C015192013-Cover.jpg
Download (270kB) | Preview
C015192013-1-2(FILEminimizer).pdf
Download (213kB)
C015192013-dp(FILEminimizer).pdf
Download (77kB)
C015192013-full(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 23 January 2027.
Download (469kB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru jangka panjang yang menjadi salah satu penyebab utama kematian global. Prevalensi PPOK dan angka kematian terkait penyakit ini terus meningkat, dengan faktor risiko utama seperti merokok, polusi udara, dan paparan polutan pekerjaan. Selain dampak pada sistem pernapasan, PPOK juga berhubungan dengan peningkatan risiko sarkopenia, yaitu kondisi degenerasi otot yang progresif dan berhubungan dengan penurunan kekuatan dan massa otot. Sarkopenia pada pasien PPOK dapat memperburuk kualitas hidup, meningkatkan angka rawat inap, dan memperburuk prognosis. Meskipun prevalensi sarkopenia dilaporkan meningkat seiring dengan peningkatan keparahan PPOK, hasil penelitian terkait hubungan antara keparahan PPOK dan kejadian sarkopenia masih bervariasi. Subjek dan Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien dengan diagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), dengan sampel terdiri dari pasien yang memenuhi kriteria inklusi berdasarkan hasil spirometri dan persetujuan partisipasi, serta tidak mengonsumsi kortikosteroid dalam tiga bulan terakhir. Jumlah sampel minimal yang diperlukan adalah 52 pasien, yang dihitung menggunakan rumus statistika. Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa dari 62 subjek dengan usia antara 45 hingga 82 tahun, mayoritas berusia 61-70 tahun. Dari subjek tersebut, 54.8% non obese dan 45.2% obese. Sarkopenia teridentifikasi pada 77.4% subjek, dengan 18.8% di antaranya berada pada derajat berat. Analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara derajat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dengan kejadian sarkopenia; kejadian sarkopenia 100% pada derajat PPOK sedang hingga sangat berat, sementara hanya 44% pada PPOK derajat ringan. Korelasi antara derajat PPOK dan derajat sarkopenia menunjukkan keterkaitan sangat kuat (R=0,879), menunjukkan semakin berat PPOK, semakin berat pula sarkopenia. Analisis tambahan menemukan bahwa usia berhubungan signifikan dengan sarkopenia pada usia >70 tahun, dan kejadian sarkopenia lebih tinggi pada subjek non obese dibandingkan yang obese. Analisis multivariate menegaskan bahwa derajat PPOK berhubungan signifikan dengan derajat sarkopenia, sedangkan usia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kesimpulan: mayoritas subjek PPOK berada pada derajat ringan, namun sarkopenia ditemukan pada sebagian besar subjek. Hubungan signifikan teridentifikasi antara derajat keparahan PPOK dan kejadian sarkopenia, dengan prevalensi sarkopenia yang lebih tinggi pada pasien dengan PPOK derajat sedang hingga sangat berat, dibandingkan pada PPOK derajat ringan. Terdapat hubungan yang sangat kuat antara peningkatan derajat PPOK dan tingkat keparahan sarkopenia. Kata Kunci: Derajat PPOK, Derajat Sarkopenia, Penyakit Paru Obstruktif Kronis, Hubungan klinis .
Kata Kunci: Derajat PPOK, Derajat Sarkopenia, Penyakit Paru Obstruktif Kronis, Hubungan klinis.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Degree of COPD, Degree of Sarcopenia, Chronic Obstructive Pulmonary Disease, Clinical relationship. |
| Subjects: | R Medicine > RC Internal medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Penyakit Dalam |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 19 Sep 2025 05:27 |
| Last Modified: | 19 Sep 2025 05:27 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/49635 |
