SIMBOL DAN MAKNA DALAM TUTURAN RITUALPASCAPEMAKAMAN MASYARAKAT TANGRU KECAMATAN MALUA KABUPATEN ENREKANG (KAJIAN SEMIOTIK)

SUPARMAN, SUPARMAN (2013) SIMBOL DAN MAKNA DALAM TUTURAN RITUALPASCAPEMAKAMAN MASYARAKAT TANGRU KECAMATAN MALUA KABUPATEN ENREKANG (KAJIAN SEMIOTIK). Thesis-S2 thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of cover]
Preview
Image (cover)
suparman-989-1-13-supar-2 cover1.jpg

Download (298kB) | Preview
[thumbnail of bab 1-2] Text (bab 1-2)
suparman-989-1-13-supar-2 1-2.pdf

Download (373kB)
[thumbnail of dapus] Text (dapus)
suparman-989-1-13-supar-2 dapus.pdf

Download (158kB)
[thumbnail of full text] Text (full text)
suparman-989-1-13-supar-2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (805kB)

Abstract (Abstrak)

ABSTRAK
Suparman. Simbol dan Makna dalam Tuturan Ritual
Pascapemakaman Masyarakat Tangru Kecamatan Malua Kabupaten
Enrekang Kajian Semiotik (dibimbing oleh Tadjuddin Maknun dan
Stanislaus Sandarupa)
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan
proses ritual dan simbol dan makna yang terkandung dalam tuturan ritual
pascapemakaman masyarakat Tangru Kecamatan Malua Kabupaten
Enrekang.
Penelitian ini adalah penelitian eksplorasi. Sumber data dari pelitian ini
adalah tuturan ritual pascapemakaman masyarakat tangrudalam bentuk
lisan. Data diperoleh dari dua sumber, pertama, data primer yaitu berupa
tuturan ritual yang diperoleh pada ritual kematian masyarkat Tangru, data
sekunder yaitu data tambahan yang diperoleh dari buku-buku yang ada
kaitan dan mendukung penelitian ini. Instrumen pengumpulan data adalah
peneliti sendiri yang berbekal pengetahuan tentang kajian dan objek kajian
penelitian dengan teknik penganalisaan data yaitu memahami, menyeleksi,
menandai, dan mencocokkan antara data primer dan data sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ritual pascapemakaman
oleh masyarakat Tangru dilakukan dalam lima proses yang mengikuti waktu
salat dalam tradisis islam, yakni karuen bala batu, kedua sube litak, ketiga
pangpituanna, keempat sangpulo kaserana, dan kelima pangpatang
puloanna. Pada konteks pembacaan doa terbagi dalam dua konteks yakni
konteks monolog dan dialog, dikatakan monolog karena yang membacakan
doa hanyalah Tuan guru dan para sanak saudara hanya mendengar doa dari
tuan guru. Pada konteks diaolog Tuan Guru menyakini bahwa dalam
berkomunikasi dengan Tuhan dan Leluhur Tuan Guru mendapatkan respon
dari Tuhan dan Leluhur baik respon secara batiniah ataukah secara lahiriah.
Makna yang terkandung dalam simbol tuturan ritual tersebut terdiri dari,
simbol riligius, sosial dan kebersamaan

Item Type: Thesis (Thesis-S2)
Subjects: P Language and Literature > PK Indo-Iranian
Depositing User: Kamaluddin
Date Deposited: 28 Oct 2021 07:41
Last Modified: 28 Oct 2021 07:41
URI: http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/8374

Actions (login required)

View Item
View Item