Pengaruh Kerapatan Vegetasi Hutan kota Terhadap Sulfur dioksida (SO₂) Di Kota Makassar


BULO, GOBIN (2026) Pengaruh Kerapatan Vegetasi Hutan kota Terhadap Sulfur dioksida (SO₂) Di Kota Makassar. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of M011221214-fulll.pdf] Text
M011221214-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract (Abstrak)

Kondisi udara bersih merupakan elemen esensial bagi kesejahteraan manusia, namun kualitasnya terus merosot di kawasan perkotaan akibat masifnya industrialisasi dan volume kendaraan. Kota Makassar menjadi salah satu kota besar di Indonesia yang terindikasi kritis terkait polusi udara, khususnya kontaminasi gas sulfur dioksida SO₂. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kerapatan vegetasi, baik secara makro di seluruh wilayah Kota Makassar maupun secara mikro pada enam lokasi kawasan hutan kota, terhadap konsentrasi gas SO₂ selama periode 2020–2025. Metode penelitian menggunakan pendekatan penginderaan jauh berbasis platform Google Earth Engine (GEE) dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Kerapatan vegetasi diestimasi melalui data Citra Landsat 8 dengan indeks Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), sedangkan sebaran gas SO₂ dipetakan menggunakan Citra Sentinel-5P. Hubungan serta pengaruh antavariabel diuji menggunakan analisis korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian pada skala makro (Kota Makassar) menunjukkan adanya hubungan negatif dengan kategori sedang pada koefisien korelasi (r) sebesar (r= -0,5166, R²= 0,2668), dan hasil koefisien determinasi (R²) mengindikasikan bahwa peningkatan kerapatan vegetasi mampu mereduksi kadar SO₂ sebesar 26,6%. Sementara itu, analisis skala mikro pada kawasan hutan kota menunjukkan korelasi negatif yang kategorinya lebih lemah sebesar (r = -0,3822, R²= 0,1461), di mana pada hasil koefisien determinasi (R²) menunjukkan kontribusi vegetasi dalam menekan polutan tercatat sebesar 14,6%. Pola yang lebih landai pada skala tapak ini menandakan bahwa kualitas udara di dalam area hutan kota cenderung jauh lebih stabil dan konstan berada pada level polusi yang rendah. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa kerapatan vegetasi secara nyata berbanding terbalik dengan konsentrasi gas SO₂ di udara. Mengingat fluktuasi polutan di atmosfer Makassar masih sangat didominasi oleh beban emisi perkotaan (73,4%), penambahan dan perluasan ruang terbuka hijau secara masif sangat mendesak dilakukan pada skala kota. Di sisi lain, kawasan hutan kota terbukti efektif berfungsi sebagai zona penyangga (buffer zone) yang menjaga stabilitas kualitas udara dari paparan polusi ekstrem perkotaan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions (Program Studi): Fakultas Kehutanan > Kehutanan
Depositing User: Unnamed user with username Masnah
Date Deposited: 26 Oct 2026 06:25
Last Modified: 26 Oct 2026 06:25
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/60384

Actions (login required)

View Item
View Item