AMALANDA, ANNISA (2026) HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM OBAT DAN TINGKAT DEPRESI TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN MYASTHENIA GRAVIS DI INDONESIA. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
N012241030-YKBCl85AQkNzFGhs-20260819000549.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (5MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Myasthenia gravis merupakan penyakit autoimun kronis yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Kepatuhan minum obat dan kondisi psikologis, khususnya depresi, diyakini berperan penting dalam menentukan kualitas hidup pasien. Namun, penelitian yang secara simultan mengkaji kedua faktor ini dalam kaitannya dengan kualitas hidup masih sangat terbatas, terutama di Indonesia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kepatuhan minum obat dan tingkat depresi terhadap kualitas hidup pasien Myasthenia gravis di Indonesia. Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 267 pasien myasthenia gravis yang tergabung dalam Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia. Data dikumpulkan secara daring menggunakan kuesioner tervalidasi, meliputi MGQoL-15 untuk mengukur kualitas hidup, MARS-10 untuk mengukur kepatuhan minum obat, dan PHQ-9 untuk mengukur tingkat depresi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney, Kruskal-Wallis, dan regresi linear berganda dengan penyesuaian terhadap kovariat sosiodemografi dan klinis. Hasil. Mayoritas partisipan adalah perempuan (76%), berusia >40 tahun (49,8%), dan memiliki subtype penyakit generalized (74,5%). Sebagian besar partisipan memiliki kepatuhan tinggi (89,1%) dengan distribusi depresi terbanyak pada kategori ringan (36,3%). Analisis multivariat menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat tidak berhubungan signifikan dengan kualitas hidup (β = -0,232; 95% CI: -1,032–0,569; p = 0,570). Sebaliknya, tingkat depresi terbukti menjadi prediktor independen yang sangat signifikan (β = 1,052; 95% CI: 0,836–1,267; p <0,001). Mengingat MGQoL-15 menggunakan sistem penilaian inversi, di mana skor yang lebih tinggi mencerminkan kualitas hidup yang lebih buruk, hal ini berarti setiap peningkatan satu poin skor depresi berhubungan dengan perburukan kualitas hidup sebesar 1,052 poin. Faktor lain yang signifikan meliputi usia (β = -2,631; p = 0,004), status pekerjaan (β = -4,417; p = 0,001), subtipe penyakit (β = -3,065; p = 0,037), dan kondisi 12 bulan terakhir (β = 4,119; p = 0,004). Kesimpulan. Kualitas hidup pasien Myasthenia gravis lebih ditentukan oleh tingkat depresi dibandingkan kepatuhan minum obat. Usia, status pekerjaan, subtipe penyakit, dan kondisi 12 bulan terakhir juga berperan signifikan. Temuan ini menegaskan perlunya perluasan peran farmasis yang tidak hanya berfokus pada pemantauan kepatuhan dan terapi farmakologis, tetapi juga mengintegrasikan skrining dan penanganan depresi secara rutin sebagai bagian integral dari pengelolaan holistik pasien Myasthenia gravis.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Myasthenia gravis, kualitas hidup, kepatuhan minum obat, depresi, MGQoL-15, MARS-10, PHQ-9 |
| Subjects: | R Medicine > RS Pharmacy and materia medica |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Farmasi > Farmasi |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 23 Oct 2026 00:42 |
| Last Modified: | 23 Oct 2026 00:42 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/60217 |
