SANI, UMNIYAH SANI (2026) DINAMIKA KOORDINASI LINTAS BUDAYA DI LINGKUNGAN INDUSTRI BAJA: STUDI KASUS PENERJEMAH DAN TENAGA KERJA TIONGKOK PADA DISPATCHER ROOM PT. DSI-SS = Dynamics of Cross-Cultural Coordination in the Steel Industry Environment: A Case Study of Translators and Chinese Workers at the Dispatcher room of PT DSI-SS. Skripsi thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN.
F091221035-txKDpseXyGavQNwo-20260818142750.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (7MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Kehadiran investasi asing di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah menciptakan lingkungan kerja multikultural yang mempertemukan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Perbedaan latar belakang budaya dan bahasa di lingkungan bertekanan tinggi ini berpotensi memicu hambatan komunikasi yang berdampak pada kelancaran operasional. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komunikasi dan koordinasi yang terjalin, serta mengidentifikasi hambatan antarbudaya yang terjadi di unit kerja Dispatcher room PT DSI-SS. Metode. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan sumber data dilakukan melalui teknik purposive sampling dengan menetapkan satu informan kunci (single key informant) yang memegang jabatan strategis sebagai Foreman Dispatcher merangkap Penerjemah serta 4 informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam, kemudian di analisis menggunakan teori dimensi budaya Hofstede dan Teori Akomodasi Komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi di Dispatcher room bersifat vertikal satu arah (top-down) akibat segregasi fisik antara TKA di ruang kendali dan TKI di lapangan. Koordinasi kerja sangat bergantung pada mediasi teknologi aplikasi WeChat dengan fitur penerjemah otomatis serta peran ganda penerjemah yang memiliki otoritas pengawas (role expansion). Hambatan utama yang di temukan bukan sekadar kendala bahasa, melainkan perbedaan persepsi budaya, khususnya terkait intonasi suara tinggi TKA yang sering dimaknai sebagai kemarahan oleh pekerja lokal, serta perbedaan ritme kerja antara budaya maskulin (cepat/tegas) dan feminin (harmonis/santai). Meskipun perusahaan telah menerapkan pelatihan bahasa rutin, ketiadaan pelatihan kompetensi antarbudaya menyebabkan beban adaptasi psikologis masih bertumpu pada inisiatif personal penerjemah melalui strategi penghalusan makna (softening).
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | budaya kerja tiongkok, peran penerjemah, produktivitas, hambatan budaya, PT DSI-SS, perusahaan multinasional |
| Subjects: | P Language and Literature > PN Literature (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Ilmu Budaya > Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 22 Oct 2026 06:44 |
| Last Modified: | 22 Oct 2026 06:44 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/60174 |
