NURMANINGTYAS, ANGGIA RIANI (2026) STRATEGI PENGELOLAAN PERMUKIMAN DI ATAS AIR DENGAN PENDEKATAN ECO-SETTLEMENTS STUDI KASUS KAMPUNG TOBATI, PAPUA. Disertasi thesis, Universitas Hasanuddin.
P033231027-EvR3Shf4zlGsUcwF-20260730080214.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (6MB)
Abstract (Abstrak)
ANGGIA RIANI NURMANINGTYAS. Strategi Pengelolaan Permukiman di Atas Air dengan Pendekatan Eco-Settlements: Studi Kasus Kampung Tobati, Papua (dibimbing oleh Baharuddin Hamzah dan Evi Aprianti S). Latar belakang: Kampung Tobati merupakan permukiman adat di atas air dalam ekosistem Teluk Youtefa. Permukiman ini ditopang oleh laut, mangrove, rumah panggung, sistem marga, hak ulayat, ondoafi, dan Tonotwiyat. Namun, kualitas lingkungannya masih terhambat oleh sanitasi yang belum layak, keterbatasan air bersih, persampahan, tekanan kualitas perairan, degradasi mangrove, dan lemahnya sinergi adat-formal. Kesenjangan penelitian terletak pada belum terhubungnya kapasitas sosial- budaya adat dengan intervensi teknis, pendanaan, regulasi, dan tata kelola formal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik lingkungan permukiman Kampung Tobati, memvalidasi aspek-aspek yang memengaruhi kualitas lingkungannya, serta mengembangkan model konseptual strategi pengelolaan permukiman di atas air berbasis eco-settlement kontekstual. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi, pengukuran kondisi lingkungan, kuesioner pakar, dan studi dokumen. Analisis dilakukan secara bertahap menggunakan NVivo untuk mengidentifikasi karakteristik dan faktor utama, Fuzzy Delphi Method (FDM) untuk memvalidasi aspek berdasarkan konsensus pakar, SWOT untuk merumuskan posisi dan alternatif strategi, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ketimpangan antar-dimensi eco-settlement. Dimensi sosial-budaya dan kelembagaan adat kuat melalui legitimasi ondoafi, sistem marga, gotong royong, hak ulayat, dan Tonotwiyat. Sebaliknya, dimensi ekologis-fisik masih lemah karena defisit sanitasi, air bersih, persampahan, teknologi lingkungan, dan kualitas hunian. Fuzzy Delphi Method memvalidasi 38 dari 39 aspek awal. Analisis SWOT menempatkan Kampung Tobati pada kuadran Weakness-Opportunity. Hasil AHP memprioritaskan sanitasi komunal kedap dan TPS apung partisipatif, co-governance adat-formal, pemanenan air hujan dan filtrasi surya, inkubasi wirausaha serta akses keuangan mikro, dan retrofit rumah panggung adaptif. Temuan ini menghasilkan konsep Latent Capacity Paradox, yaitu kapasitas sosial-budaya adat yang kuat belum otomatis meningkatkan kualitas lingkungan tanpa dukungan teknologi, pendanaan, regulasi, dan tata kelola formal. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kampung Tobati memerlukan model konseptual eco-settlement kontekstual yang menghubungkan legitimasi adat, intervensi teknis, kebijakan, dan partisipasi masyarakat melalui strategi bridging yang ekologis, diterima secara sosial, dan sah secara kultural.
| Item Type: | Thesis (Disertasi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kata kunci: eco-settlement; Kampung Tobati; permukiman di atas air; Latent Capacity Paradox; co-governance adat-formal. |
| Subjects: | T Technology > T Technology (General) |
| Divisions (Program Studi): | Program Pascasarjana > Ilmu Lingkungan |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 22 Oct 2026 00:39 |
| Last Modified: | 22 Oct 2026 00:39 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/60084 |
