ANALISIS RANTAI NILAI DAN STRATEGI PENGUATAN HILIRISASI KAKAO UNTUK PRODUK COKELAT PREMIUM DI KABUPATEN LUWU


HIRAWAN, FADEL (2026) ANALISIS RANTAI NILAI DAN STRATEGI PENGUATAN HILIRISASI KAKAO UNTUK PRODUK COKELAT PREMIUM DI KABUPATEN LUWU. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of P042242009-Tqy9JmRzjNecHlUM-20260819162048.pdf] Text
P042242009-Tqy9JmRzjNecHlUM-20260819162048.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract (Abstrak)

FADEL HIRAWAN. Analisis Rantai Nilai dan Strategi Penguatan Hilirisasi Kakao untuk Produk Cokelat Premium di Kabupaten Luwu (dibimbing oleh Muhammad Hatta Jamil dan Ariady Arsal). Latar belakang. Kabupaten Luwu merupakan salah satu sentra produksi kakao yang memiliki potensi besar untuk pengembangan hilirisasi. Namun, nilai tambah masih terkonsentrasi pada pelaku hilir, sedangkan petani yang umumnya berperan sebagai pemasok bahan baku memperoleh manfaat ekonomi yang relatif rendah. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur rantai nilai kakao serta merumuskan prioritas strategi penguatan hilirisasi kakao berkelanjutan di Kabupaten Luwu. Metode. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods melalui Value Chain Analysis, Value Chain Governance, analisis ekonomi, metode Hayami, serta SWOT-AHP. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap pelaku utama rantai nilai dan informan ahli. Hasil. Rantai nilai kakao terdiri atas tiga jalur utama, yaitu petani–kolektor–PT Mars Symbio Science sebagai biji, petani–pengepul–PT Comextra Majora, dan petani–pengepul–PT Hadin Agrivisi Internusa sebagai jalur hilirisasi menuju produk cokelat premium. Tata kelola rantai nilai meliputi market governance, captive governance, dan modular governance. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa petani memperoleh laba ekonomi usahatani sebesar Rp2.625.885 per bulan dan pengepul memperoleh margin pascapanen dan distribusi sebesar Rp24.527.143 per bulan. Sementara itu, pada pelaku pengolah (PT Hadin Agrivisi Internusa), analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami menghasilkan keuntungan sebesar Rp140.000.000 per bulan dengan nilai tambah sebesar Rp146.702.000 per bulan. Distribusi nilai menunjukkan pengolah memperoleh porsi terbesar (83,76%), diikuti pengepul (14,67%) dan petani (1,57%). Strategi prioritas hasil SWOT-AHP adalah peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan teknologi pascapanen dan pengolahan kakao (54,5%). Kesimpulan. Hilirisasi kakao berkelanjutan di Kabupaten Luwu perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan mutu, standardisasi pascapanen, peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, kemitraan dengan industri, dan perluasan akses pasar premium. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai nilai, memperluas keterlibatan pelaku hulu dalam aktivitas bernilai tambah, serta mewujudkan distribusi nilai ekonomi yang lebih proporsional dan berkelanjutan.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: Kata kunci: kakao, rantai nilai, tata kelola, nilai tambah, hilirisasi, cokelat premium.
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions (Program Studi): Program Pascasarjana > Agribisnis
Depositing User: Unnamed user with username pklpkl
Date Deposited: 19 Oct 2026 05:40
Last Modified: 19 Oct 2026 05:40
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59760

Actions (login required)

View Item
View Item