TODING, OLWEN SAMPE (2026) ASPEK SOSIAL BUDAYA DAN EKONOMI MASYARAKAT LOKAL DALAM PEMANFAATAN SATWA LIAR DI KABUPATEN TANA TORAJA. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
M031221041-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal dalam pemanfaatan satwa liar di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebagai bagian dari wilayah Wallacea yang memiliki tingkat endemisme tinggi, Tana Toraja tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga memiliki tradisi budaya yang kuat dalam berinteraksi dengan satwa liar. Pemahaman terhadap dinamika interaksi manusia dan satwa liar melalui pendekatan etnozoologi menjadi penting untuk merancang strategi konservasi yang partisipatif dan menghargai kearifan lokal. Metode. Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga November 2025 di tiga kecamatan, yaitu Mengkendek, Rembon, dan Sangalla, dengan melibatkan 90 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner, observasi lapangan, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan satwa liar di wilayah studi tidak bersifat eksploitatif-komersial, di mana 93–100% responden tidak memperoleh penghasilan dari sektor ini. Interaksi masyarakat dengan satwa liar lebih didorong oleh dua hal utama: perlindungan aset pertanian dari hama (tikus dan babi hutan) dan pelestarian nilai ritual adat. Pada aspek budaya, meskipun pengetahuan tentang mitos dan larangan adat (pamali) telah memudar (87–91% responden tidak mengenalnya), nilai spiritual satwa liar tetap bertahan melalui ritual Sapurandanan, terutama di Sangalla (87%), Rembon (53%), dan Mengkendek (23%). Pada aspek sosial, partisipasi masyarakat dalam gotong royong sangat tinggi (100%), namun solidaritas saat terjadi konflik satwa liar justru rendah (87–100% tidak ada mekanisme saling membantu), dengan penyelesaian konflik sangat bergantung pada peran pemerintah (70–100%). Kesimpulan. Hubungan masyarakat Tana Toraja dengan satwa liar telah bergeser dari ketergantungan ekonomi menuju interaksi yang bersifat pragmatis dan kultural. Satwa liar tidak lagi dipandang sebagai komoditas pasar, melainkan sebagai entitas dengan fungsi ekologis (hama pertanian) dan fungsi kosmologis (simbol ritual). Strategi konservasi di Tana Toraja perlu bergeser dari pendekatan pelarangan perburuan (anti-poaching) menuju manajemen konflik manusia-satwa liar yang partisipatif, melalui harmonisasi antara kapasitas teknis pemerintah dan otoritas moral lembaga adat, serta revitalisasi kearifan lokal untuk mewujudkan koeksistensi yang berkelanjutan.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Etnozoologi, Satwa Liar, Konservasi Partisipatif, Konflik Manusia-Satwa, Tana Toraja |
| Subjects: | S Agriculture > SD Forestry |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kehutanan > Kehutanan |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 19 Oct 2026 06:31 |
| Last Modified: | 19 Oct 2026 06:31 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59725 |
