PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP KUALITAS HIDROLOGI MENGGUNAKAN MODEL SWAT DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI MANGGULILING, DAERAH ALIRAN SUNGAI SEGERI


TAHIR, AHMAD (2026) PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP KUALITAS HIDROLOGI MENGGUNAKAN MODEL SWAT DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI MANGGULILING, DAERAH ALIRAN SUNGAI SEGERI. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of M012232015-MAaBxyODkst5RYVT-20260818223036.pdf] Text
M012232015-MAaBxyODkst5RYVT-20260818223036.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract (Abstrak)

Latar Belakang. Perubahan tutupan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat mengganggu keseimbangan siklus hidrologi, khususnya pada wilayah hulu yang tidak terukur. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap kualitas hidrologi menggunakan model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) di Sub-DAS Mangguliling, DAS Segeri, serta merumuskan arahan Konservasi Tanah dan Air (KTA). Metode. Penelitian ini mengintegrasikan analisis spasial perubahan tutupan lahan (2020–2024) dan pemodelan hidrologi menggunakan model SWAT. Validasi peta tutupan lahan 2024 dilakukan menggunakan stratified random sampling pada 184 titik uji berbasis Confusion Matrix. Simulasi SWAT dibangun menggunakan data DEM, jenis tanah, tutupan lahan, dan data iklim harian. Kualitas hidrologi dievaluasi pada tingkat subbasin berdasarkan indikator Koefisien Limpasan Permukaan (C) dan Koefisien Regim Aliran (KRA), yang menjadi dasar perumusan arahan KTA. Hasil. Hasil penilaian Confusion Matrix menunjukkan nilai Akurasi Keseluruhan (Overall Accuracy) mencapai 98,37% dengan indeks Kappa sebesar 97,67%, membuktikan keandalan tinggi spatial input model. Perubahan tutupan lahan periode 2020–2024 menunjukkan suksesi alami berupa peningkatan luasan hutan lahan kering sekunder sebesar 5,11 ha, sementara nilai evapotranspirasi (ET) stabil pada angka 1.195,10 mm (49% dari total curah hujan). Simulasi SWAT menunjukkan mayoritas wilayah (Subbasin 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 8) memiliki kualitas hidrologi berstatus "Baik" dengan koefisien limpasan permukaan (C) yang rendah. Namun, anomali hidrologis terjadi pada Subbasin 7 dan 9 yang statusnya menurun menjadi "Sedang" akibat lonjakan ekstrem Koefisien Regim Aliran (KRA) masing-masing sebesar 102,52 dan 129,78. Kondisi ini mengindikasikan rendahnya kapasitas retensi batuan dasar dalam mempertahankan aliran dasar (baseflow) saat kemarau, meskipun kemampuan peresapan tanahnya sangat tinggi (C = 0,03 dan 0,01). Kesimpulan. Sebagai solusi, dirumuskan strategi KTA: metode vegetatif berupa reboisasi/pengayaan tajuk seluas 299,27 ha serta agroforestri seluas 18,22 ha di zona hulu lindung; serta metode sipil teknis berupa pembuatan Gully Plug dan terasering seluas 345,36 ha pada subbasin berlimpasan tertinggi, dikombinasikan dengan infrastruktur sumur resapan/biopori seluas 34,26 ha guna memperkuat pasokan aliran dasar.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: Tutupan Lahan, Kualitas Hidrologi, Model SWAT, Koefisien Regim Aliran, Konservasi Tanah dan Air
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions (Program Studi): Fakultas Kehutanan > Kehutanan
Depositing User: Unnamed user with username pklpkl
Date Deposited: 14 Oct 2026 05:57
Last Modified: 14 Oct 2026 05:57
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59577

Actions (login required)

View Item
View Item