LESTARI, YENI AYU (2026) EFISIENSI EKONOMI PENGELOLAAN HUTAN KEMASYARAKATAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN MASYARAKAT SETEMPAT: STUDY KASUS HKm KTH ABULO SIBATANG DI KECAMATAN CENRANA, KABUPATEN MAROS. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
M012231010-7tpLy4UW3Ad1s56X-20260811222258.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Hutan Kemasyarakatan (HKm) merupakan salah satu skema Perhutanan Sosial yang diarahkan untuk memberdayakan masyarakat sekitar hutan tanpa mengubah status kawasan hutan. Kelompok Tani Hutan (KTH) Abulo Sibatang di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, mengelola areal HKm seluas ±96,38 hektare berdasarkan Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) yang berlaku selama 35 tahun, dengan mengombinasikan penyadapan getah pinus sebagai komoditas utama dan tanaman pangan (padi, kacang, porang, dan jahe) dalam pola agroforestri multi-komoditas. Penelitian ini memiliki Tujuan untuk (1) menganalisis efisiensi ekonomi pengelolaan lahan HKm, (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat efisiensi tersebut, dan (3) merumuskan strategi peningkatan pengelolaan HKm KTH Abulo Sibatang.Metode. Efisiensi ekonomi diukur menggunakan pendekatan Land Equivalent Ratio (LER) berbasis nilai pendapatan, yaitu perbandingan pendapatan sesudah HKm (sistem tumpangsari) terhadap pendapatan sebelum HKm (sistem monokultur). Perumusan strategi peningkatan pengelolaan dilakukan melalui integrasi analisis SWOT untuk memetakan faktor internal dan eksternal, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot prioritas antar-kelompok strategi secara terukur dan konsisten.Hasil dan Kesimpulan. Penelitian menunjukkan bahwa dari 34 anggota KTH, nilai LER berhasil dihitung untuk 27 responden dengan nilai rata-rata 2,393, yang berarti satu hektare lahan tumpangsari HKm secara rata-rata memberikan manfaat ekonomi setara dengan 2,39 hektare lahan monokultur. Seluruh responden mencatat nilai LER di atas 1, dengan sebaran 48,15% pada strata rendah (rata-rata 1,41), 40,74% pada strata sedang (rata-rata 2,73), dan 11,11% pada strata tinggi (rata-rata 5,72). Secara agregat, pengelolaan HKm meningkatkan total pendapatan 34 anggota KTH dari Rp475.285.000 menjadi Rp1.017.295.000, atau naik 114,0%, dengan rata-rata kenaikan Rp15.941.471 per anggota per tahun. Variasi nilai LER antar-anggota dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu dominasi pendapatan getah pinus, diversifikasi komoditas yang dikelola, luas dan kualitas lahan, serta keterampilan teknis penyadapan getah pinus. Hasil analisis SWOT menempatkan KTH Abulo Sibatang pada Kuadran I (posisi Agresif) dengan koordinat (0,00 ; +0,60), sedangkan pembobotan AHP (Consistency Ratio = 0,026, konsisten) menghasilkan strategi SO (Agresif) sebagai prioritas utama dengan bobot 42,31%, diikuti strategi WO/Pembenahan (26,14%), ST/Stabilisasi (19,82%), dan WT/Defensif (11,73%). Strategi SO menitikberatkan pada intensifikasi penyadapan getah pinus terstandar, pengembangan agroforestri terpadu, perluasan kemitraan dengan BUMDes dan KPH, serta pemanfaatan akses izin Perhutanan Sosial.Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelolaan HKm berbasis agroforestri pinus terbukti lebih efisien secara ekonomi dibandingkan sistem monokultur dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi rumah tangga anggota. Implementasi strategi SO secara sinergis dengan strategi WO, ST, dan WT sesuai bobot prioritas AHP diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai LER anggota secara berkelanjutan.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Hutan Kemasyarakatan, Land Equivalent Ratio, agroforestri pinus, analisis SWOT, Analytical Hierarchy Process |
| Subjects: | S Agriculture > SD Forestry |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kehutanan > Kehutanan |
| Depositing User: | Unnamed user with username pklpkl |
| Date Deposited: | 14 Oct 2026 05:36 |
| Last Modified: | 14 Oct 2026 05:36 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59557 |
