ANALISIS TREN DAN POLA SPASIAL DEFORESTASI SERTA AFORESTASI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2021 – 2025


DEWI, AGNI PRASTIKA (2026) ANALISIS TREN DAN POLA SPASIAL DEFORESTASI SERTA AFORESTASI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2021 – 2025. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of M011221071-z6BFopQ1sZliMGn7-20260810155251.pdf] Text
M011221071-z6BFopQ1sZliMGn7-20260810155251.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract (Abstrak)

Latar belakang. Deforestasi dan aforestasi merupakan dua proses yang memengaruhi dinamika tutupan hutan serta kondisi ekosistem suatu wilayah. Provinsi Sulawesi Selatan masih mengalami tekanan terhadap kawasan hutan akibat perubahan penggunaan lahan sehingga diperlukan informasi mengenai tren, laju, dan pola spasial perubahan tutupan hutan sebagai dasar pengelolaan hutan yang berkelanjutan.Tujuan Penelitian ini bertujuan menganalisis tren deforestasi dan aforestasi serta pola spasial perubahan tutupan hutan di Provinsi Sulawesi Selatan selama periode 2021–2025. Metode. Menggunakan data tutupan lahan BPKH tahun 2021-2024 dan hasil interpretasi citra Sentinel-2 tahun 2025 yang dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan FRAGSTATS 4.3. Analisis dilakukan melalui perhitungan laju perubahan tutupan hutan serta metrik spasial berupa Patch Density (PD), Contiguity Mean Indeks (CONTIG_MN), dan Clumpiness Indeks (CI). Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa deforestasi di Provinsi Sulawesi Selatan berfluktuasi selama periode 2021–2025 dengan puncak kehilangan hutan terjadi pada periode 2022–2023, kemudian cenderung menurun pada periode berikutnya meskipun masih terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota. Perubahan tutupan lahan didominasi oleh konversi hutan menjadi pertanian lahan kering, sedangkan aforestasi didominasi oleh perubahan menjadi hutan lahan kering sekunder. Sebagian besar kabupaten/kota termasuk dalam kategori low deforestation, sedangkan Kabupaten Kepulauan Selayar tergolong moderate deforestation. Berdasarkan kombinasi metrik spasial yang dominan, pola deforestasi umumnya dicirikan oleh kondisi tidak terfragmentasi, memiliki tingkat keterhubungan sedang hingga tinggi, serta berpola mengelompok. Sementara itu, pola aforestasi didominasi oleh kondisi tidak terfragmentasi, memiliki tingkat keterhubungan sedang, dan berpola mengelompok. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perubahan tutupan hutan cenderung terkonsentrasi pada kawasan tertentu, bukan tersebar secara acak. Kesimpulan. Deforestasi di Provinsi Sulawesi Selatan masih lebih dominan dibandingkan aforestasi, dengan pola spasial perubahan tutupan hutan yang cenderung mengelompok dan terhubung pada wilayah tertentu.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Kata Kunci : Deforestasi, Aforestasi, Pola spasial, FRAGSTATS, Sulawesi Selatan.
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions (Program Studi): Fakultas Kehutanan > Kehutanan
Depositing User: Unnamed user with username pklpkl
Date Deposited: 12 Oct 2026 09:00
Last Modified: 12 Oct 2026 09:00
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/59397

Actions (login required)

View Item
View Item