Pengaruh Variasi Perpendicular Baseline Terhadap Akurasi Model Elevasi Digital (DEM) Berbasis InSAR pada Berbagai Karakteristik Topografi.


FATIMAH, HUSNUL (2026) Pengaruh Variasi Perpendicular Baseline Terhadap Akurasi Model Elevasi Digital (DEM) Berbasis InSAR pada Berbagai Karakteristik Topografi. Skripsi thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN.

[thumbnail of H021221017-9I5ES1QplnHt83Ju-20260819183102.pdf] Text
H021221017-9I5ES1QplnHt83Ju-20260819183102.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract (Abstrak)

HUSNUL FATIMAH. Pengaruh Variasi Perpendicular Baseline Terhadap Akurasi Model Elevasi Digital (DEM) Berbasis InSAR pada Berbagai Karakteristik Topografi. (dibimbing oleh Prof.Tasrief Surungan, Ph.D). Latar Belakang. Teknologi penginderaan jauh berbasis gelombang mikro, khususnya Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), banyak digunakan untuk menghasilkan Model Elevasi Digital (DEM). Kualitas dan akurasi DEM sangat bergantung pada parameter geometrik, salah satunya perpendicular baseline, serta karakteristik kondisi topografi permukaan bumi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif pengaruh variasi perpendicular baseline terhadap akurasi DEM berbasis InSAR pada berbagai topografi. Penelitian difokuskan pada tiga wilayah: Kabupaten Jeneponto (topografi landai), Pulau Sumba (topografi bervariasi), dan Pulau Komodo (topografi curam). Metode. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak SNAP dengan mengekstrak perbedaan fase dari citra satelit Sentinel-1 Single Look Complex (SLC) yang memiliki rentang baseline bervariasi. Uji akurasi vertikal (altimetri) dilakukan dengan membandingkan nilai elevasi DEM Sentinel-1 terhadap data referensi berketelitian tinggi dari satelit altimetri laser ICESat-2 (produk ATL08). Evaluasi ini menggunakan parameter statistik Root Mean Square Error (RMSE) dan Mean Error (ME). Hasil. Rentang perpendicular baseline optimal sangat bergantung pada kondisi topografi wilayah. Pada wilayah bertopografi landai di Jeneponto dan topografi bervariasi di Pulau Sumba, penggunaan baseline terbesar (masing-masing 199 m dan 227 m) mampu memaksimalkan sensitivitas fase dan kerapatan fringe. Hal ini menghasilkan akurasi terbaik dengan RMSE terkecil sebesar 11,93 m dan 24,47 m. Sebaliknya, pada topografi curam di Pulau Komodo, baseline terlalu besar (213 m) justru memicu dekoherensi spasial dan phase unwrapping error akibat fenomena layover dan shadowing. Akurasi paling optimal untuk topografi curam dicapai menggunakan baseline menengah (165 m) dengan RMSE 36,32 m. Kesimpulan. penentuan perpendicular baseline harus disesuaikan dengan tingkat kecuraman topografi untuk menghasilkan model elevasi yang akurat.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: DEM, InSAR, Perpendicular Baseline, Sentinel-1, Topografi.
Subjects: Q Science > QC Physics
Divisions (Program Studi): Fakultas Matematika dan Ilmu Peng. Alam > Fisika
Depositing User: Unnamed user with username takdim
Date Deposited: 07 Oct 2026 02:10
Last Modified: 07 Oct 2026 02:10
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58964

Actions (login required)

View Item
View Item