MAPPADANG, KURNIATI (2026) HUBUNGAN ANTARA DURASI CARDIOPULMONARY BYPASS DAN DURASI AORTIC CROSS CLAMP DENGAN PENINGKATAN NITROTIROSIN SEBAGAI PREDIKTOR GAGAL GINJAL AKUT PASCA OPERASI BEDAH JANTUNG = Nitrotyrosine Elevation and Cardiac Surgery–Associated Acute Kidney Injury: The Impact of Cardiopulmonary Bypass and Aortic Cross-Clamp Duration. Sp thesis, Universitas Hasanunddin.
C135212008-1-2.pdf
Download (2MB)
C135212008-dp.pdf
Download (55kB)
C135212008-fulllll.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
C135212008-iyu9QAkofgNeD58S-20260707134735.png
Download (753kB)
Abstract (Abstrak)
Hubungan antara duraasi cardiopulmonary bypass dan durasi aortic cross clamp dengan peningkatan nitrotirosin sebagai prediktor gagal ginjal akut pasca operasi bedah jantung (Dibimbing Oleh Haizah Nurdin, Andi Adil, Syafri Kamsul Arif, Faisal Muchtar, Rusmin B. Syukur). Latar Belakang Gagal ginjal akut (AKI) merupakan komplikasi yang umum terjadi pada operasi jantung dengan mesin cardiopulmonary bypass (CPB). CPB dan Aortic cross clamp berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan iskemia-reperfusi dengan meningkatkan stres oksidatif melalui pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS) seperti nitrotirosin selama operasi. Pengukuran kadar Nitrotirosin diharapkan dapat kejadian gagal ginjal akut pada pasien yang menjalani operasi bedah jantung Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi cardiopulmonary bypass dan durasi aortic cross clamp yang diukur dengan nitrotirosin sebagai prediktor gagal ginjal akut pasca operasi bedah jantung. Metode: Penilitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain kohort yang dilakukan pada pasien yang menjalani operasi bedah jantung di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo periode Februari–April 2026. Kadar nitrotirosin serum diukur sebelum operasi dan 2–4 jam setelah operasi menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). AKI pascaoperasi didiagnosis berdasarkan kriteria KDIGO). Analisis korelasi dan ROC dilakukan. Hasil: Rerata durasi CPB adalah 111,73 ± 56,22 menit dan rerata durasi aortic cross-clamp adalah 81,85 ± 34,48 menit. Kadar nitrotirosin meningkat secara signifikan setelah operasi (2,07 ± 0,61 vs 2,56 ± 0,81 ng/mL; p < 0,001). Durasi CPB berkorelasi positif dengan kadar nitrotirosin pascaoperasi (r = 0,416; p = 0,035) dan delta nitrotirosin (r = 0,446; p = 0,022). Durasi aortic cross-clamp berkorelasi dengan kadar nitrotirosin pascaoperasi (r = 0,449; p = 0,022) dan delta nitrotirosin (r = 0,565; p = 0,003). Pasien dengan AKI menunjukkan peningkatan kadar nitrotirosin yang jauh lebih tinggi secara signifikan (p = 0,001). Analisis ROC mengidentifikasi durasi CPB >107,50 menit dan durasi aortic cross-clamp >72,50 menit sebagai prediktor AKI. Delta nitrotirosin menunjukkan performa prediktif yang baik (AUC 0,869; sensitivitas 80%; spesifisitas 93,75%). Kesimpulan: semakin lama durasi cardiopulmonary bypass dan durasi aortic cross clamp time maka semakin meningkatkan kadar nitrotirosin dan meningkatkan resiko gagal ginjal akut pasca bedah sehingga kadar nitrotirosin mungkin bisa menjadi prediktor dalam kejadian gagal ginjal akut pasca operasi bedah jantung.
| Item Type: | Thesis (Sp) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Cardiopulmonary bypass; Aortic cross-clamp; Nitrotyrosine; gagal ginjal akut, operasi bedah jantung |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS Anestesiologi |
| Depositing User: | - Andi Anna |
| Date Deposited: | 01 Oct 2026 06:21 |
| Last Modified: | 01 Oct 2026 06:21 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58653 |
