TAIGANJA SEBAGAI KONSTRUKSI STATUS SOSIAL DAN KESETARAAN GENDER BAGI MASYARAKAT SUKU KAILI DI KABUPATEN SIGI SULAWESI TENGAH


BAKRI, MUTHAHHARA (2026) TAIGANJA SEBAGAI KONSTRUKSI STATUS SOSIAL DAN KESETARAAN GENDER BAGI MASYARAKAT SUKU KAILI DI KABUPATEN SIGI SULAWESI TENGAH. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of F062232004-ouTBApDCRONWxL0G-20260414203959.jpeg] Image
F062232004-ouTBApDCRONWxL0G-20260414203959.jpeg

Download (104kB)
[thumbnail of F062232004-1-2.pdf] Text
F062232004-1-2.pdf

Download (358kB)
[thumbnail of F062232004-dp.pdf] Text
F062232004-dp.pdf

Download (204kB)
[thumbnail of F062232004-fulll.pdf] Text
F062232004-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract (Abstrak)

Penelitian ini mengkaji Taiganja sebagai simbol budaya yang secara aktif mengonstruksi status sosial dan relasi gender dalam masyarakat Kaili di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Studi ini menempatkannya sebagai teknologi simbolik yang memproduksi legitimasi sosial, kuasa adat, dan subjektivitas gender. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan mengintegrasikan semiotika Charles Sanders Peirce dan analisis wacana genealogis Michel Foucault untuk menelusuri bagaimana makna, otoritas, dan diferensiasi sosial dilekatkan pada budaya material. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat dan pelaku budaya, observasi partisipatif pada tahapan ritual sambulugana (peminangan) dan perkawinan adat, serta dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taiganja beroperasi melalui struktur semiotik triadik yang menghubungkan bentuk material, simbol kesuburan, dan interpretasi sosial, sehingga melegitimasi garis keturunan bangsawan (Tomanurung) sekaligus mengatur posisi sosial perempuan. Secara diskursif, Taiganja bekerja sebagai mekanisme normalisasi yang menata relasi gender tanpa paksaan langsung, melalui internalisasi norma adat sebagai kewajaran budaya. Dalam konteks kontemporer, Taiganja mengalami transformasi dari objek ritual sakral menjadi simbol warisan budaya dan komoditas kultural. Pergeseran ini menandai perubahan fungsi diskursif Taiganja yang berimplikasi pada reduksi dimensi gender dan relasi kuasa yang sebelumnya melekat. Studi ini berkontribusi pada kajian budaya kritis dengan menegaskan simbol lokal sebagai arena historis kontestasi makna, kuasa, dan identitas gender.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: P Language and Literature > PN Literature (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Ilmu Budaya > Ilmu Sejarah
Depositing User: Nasyir Nompo
Date Deposited: 01 Oct 2026 03:30
Last Modified: 01 Oct 2026 03:30
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58619

Actions (login required)

View Item
View Item