THIOS, PETER KIN (2025) DUAL IN VIVO INFECTION MODEL SEBAGAI PLATFORM INOVATIF PENGUJIAN EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK LENGKUAS (Alpinia galanga) DALAM UPAYA PENANGANAN SEPSIS = DUAL IN VIVO INFECTION MODEL AS AN INNOVATIVE PLATFORM FOR TESTING THE ANTIBACTERIAL EFFECTS OF GALANGAL (Alpinia galanga) EXTRACT IN TREATMENT OF SEPSIS. Skripsi thesis, Universitas Hasanunddin.
C011221024-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang: Sepsis merupakan kondisi infeksi yang dapat menyebabkan disfungsi organ hingga kematian, dengan angka kematian di Indonesia dilaporkan berkisar 22%–52%. Terapi utama sepsis menggunakan antibiotik, namun resistensi seperti MRSA menjadi hambatan dan mendorong kebutuhan kandidat antibakteri baru. Ekstrak lengkuas berpotensi menghambat MRSA, tetapi hasil in vitro sering tidak sepenuhnya merepresentasikan respons pada organisme utuh sehingga perlu uji in vivo. Penggunaan mamalia untuk skrining awal memiliki keterbatasan biaya dan waktu, sehingga diperlukan platform yang lebih efisien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode Dual In Vivo Infection Model (DIVIM) sebagai platform baru untuk menguji efek antibakteri ekstrak lengkuas terhadap MRSA dalam upaya penanganan sepsis. Metode: Riset dilakukan melalui tahap preparasi sampel dan karakterisasi ekstrak (termasuk GC-MS), deteksi MRSA secara molekuler (PCR Elektroforesis gen penanda resistensi), uji toksisitas untuk menentukan konsentrasi aman, uji in vivo tahap pertama pada Drosophila melanogaster (mutan dan wild type), serta uji in vivo tahap kedua pada Rattus norvegicus (pengamatan fenotipe dan uji CFU). Data dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA. Hasil: Analisis GC-MS menunjukkan ekstrak lengkuas mengandung senyawa non-polar dominan phenyl acetate dan minyak atsiri berupa farnesen. MRSA terkonfirmasi positif melalui deteksi gen mecA, spa, dan lukF-PV. Konsentrasi pelarut DMSO 0,3% serta ekstrak 0,05%; 0,1%; dan 0,15% terbukti aman untuk Drosophila. Pemberian ekstrak pada Drosophila terinfeksi MRSA meningkatkan survival dan menurunkan jumlah koloni bakteri (CFU). Pada model tikus, kelompok perlakuan menunjukkan perbaikan kondisi (tidak terjadi penurunan bobot/suhu tubuh) serta penurunan jumlah koloni bakteri dibanding kontrol infeksi. Kesimpulan: Metode DIVIM terbukti efisien sebagai platform skrining in vivo dua tahap yang sinergis antara invertebrata dan mamalia, serta menunjukkan bahwa ekstrak lengkuas berpotensi sebagai antibakteri terhadap MRSA untuk mendukung penanganan sepsis.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Sepsis, MRSA, Alpinia galanga, Drosophila melanogaster, Dual In Vivo Infection Model (DIVIM), antibakteri. |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter |
| Depositing User: | - Andi Anna |
| Date Deposited: | 28 Sep 2026 07:26 |
| Last Modified: | 28 Sep 2026 07:26 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58323 |
