RANTELINO, SINTIKHE MANGEDONG (2025) Kondisi Sanitasi Lingkungan dan Uji PCR Serum Darah Pasien Suspek Leptospirosis Wilayah Puskesmas Rapokalling 2025. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
K011211193-UevfCNlaL8B0qyRS-20251008133713.jpg
Download (110kB)
K011211193-1-2.pdf
Download (445kB)
K011211193-dp.pdf
Download (162kB)
K011211193-fulllll.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract (Abstrak)
SINTIKHE MANGEDONG RANTELINO: Kondisi Sanitasi Lingkungan dan Uji PCR Serum Darah Pasien Suspek Leptospirosis di Wilayah Puskesmas Rapokalling Tahun 2025 (Dibimbing oleh Syamsuar) Latar Belakang. Suspek leptospirosis merupakan dugaan awal infeksi pada seseorang yang mengalami gejala klinis seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan konjungtiva merah, terutama jika memiliki riwayat paparan atau faktor risiko tertentu. Status ini bersifat sementara dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut melalui uji laboratorium, sehingga menjadi langkah penting dalam deteksi dini dan pengendalian penyakit. Penyakit Leptospirosis lebih sering terjadi di wilayah tropis dengan curah hujan tinggi, sanitasi buruk, dan tingginya populasi tikus. Wilayah kerja Puskesmas Rapokalling, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, merupakan daerah dengan sanitasi lingkungan berisiko dan pernah dikategorikan sebagai kawasan kumuh, sehingga berpotensi menjadi lokasi penularan Leptospirosis. Tujuan. Mengetahui kondisi sanitasi lingkungan dan uji PCR serum darah pasien suspek Leptospirosis di wilayah Puskesmas Rappokalling Tahun 2025. Metode. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain observasi deskriptif. Sampel diperoleh dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling dari pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Infeksi Leptospira dideteksi melalui pemeriksaan PCR pada serum darah yang dilakukan di Hasanuddin University Medical Research Center (HUM-RC). Hasil. Dari 20 responden yang memenuhi kriteria klinis dugaan Leptospirosis, berdasarkan pemeriksaan PCR seluruh sampel serum darah menunjukkan hasil negatif terhadap Leptospira. Hasil observasi lingkungan menunjukkan sebanyak 40 % responden memiliki genangan air disekitar rumah, 50 % memiliki tanda keberadaan tikus, 60% sampah berserakan, 95% selokan tersumbat, dan 95% selokan tidak memenuhi syarat, 55% memiliki akses tikus kedalam rumah, 100% memiliki air bersih dan kondisi SPAL tertutup. Kesimpulan. Kondisi sanitasi di rumah responden menunjukkan potensi risiko yang dapat menjadi faktor penularan bakteri Leptospira. Faktor-faktor seperti genangan air, keberadaan tikus, sampah, dan sanitasi yang kurang baik meningkatkan kemungkinan paparan terhadap bakteri penyebab leptospirosis, sehingga upaya perbaikan lingkungan dan kebersihan rumah sangat penting untuk mencegah penularan penyakit ini.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Kesehatan Masyarakat |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 26 Sep 2026 03:08 |
| Last Modified: | 26 Sep 2026 03:08 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58087 |
