Analisis Penghambat dan Pendorong Implementasi Program Notifikasi Pasangan Lelaki Seks Lelaki (LSL) HIV Positif di Kota Makassar


MADJID, MUH. ILHAM (2025) Analisis Penghambat dan Pendorong Implementasi Program Notifikasi Pasangan Lelaki Seks Lelaki (LSL) HIV Positif di Kota Makassar. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of K012221033-E9TQaPC8ZIvAOoSg-20250916144147.png] Image
K012221033-E9TQaPC8ZIvAOoSg-20250916144147.png

Download (879kB)
[thumbnail of K012221033-1-2.pdf] Text
K012221033-1-2.pdf

Download (291kB)
[thumbnail of K012221033-dp.pdf] Text
K012221033-dp.pdf

Download (81kB)
[thumbnail of K012221033-fulll.pdf] Text
K012221033-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (15MB)

Abstract (Abstrak)

Latar Belakang. Salah satu populasi berisiko tertular HIV adalah kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL). Risiko penularan pada populasi LSL 22 kali lebih besar dibandingkan populasi lainnya. Tingginya tingkat penularan ini menjadi tantangan dalam pengendalian HIV, khususnya di kalangan LSL. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan laju penularan adalah melalui program notifikasi pasangan, yang bertujuan menginformasikan pasangan berisiko agar segera melakukan tes HIV. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penghambat dan pendorong implementasi program notifikasi pasangan pada LSL HIV positif di Kota Makassar. Metode. Penelitian ini menggunakan kualitatif jenis desain studi kasus dengan teknik penentuan informan secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dan observasi terhadap 11 informan yang terdiri dari LSL, petugas kesehatan, konselor, dan direktur LSM. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan pendekatan Miles dan Huberman serta Model Perubahan Kurt Lewin dan Theory of Planned Behavior (TPB). Hasil. Hasil penelitian menunjukkan faktor pendorong antara lain: pengetahuan dan persepsi positif terhadap program, dukungan sosial dari keluarga dan tenaga kesehatan, peran konselor sebaya, serta niat altruistik untuk mencegah penularan. Sementara itu, faktor penghambat meliputi stigma sosial, ketakutan terhadap hasil HIV, hambatan akses layanan, serta dinamika psikososial dalam menjangkau pasangan. Dalam kerangka TPB, keyakinan terhadap manfaat, norma subjektif dari komunitas, dan efikasi diri mendorong niat dan perilaku notifikasi. Sedangkan dalam konteksKurt Lewin, proses perubahan terbagi dalam tahapan unfreezing, moving, dan refreezing yang dipengaruhi oleh intervensi program dan dukungan berkelanjutan. Kesimpulan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas petugas lapangan dan konselor sebaya, penyediaan layanan HIV yang lebih ramah dan inklusif, pendekatan edukatif berbasis komunitas untuk menjangkau LSL yang belum terpapar program, serta dukungan lintas sektor untuk keberlanjutan perubahan perilaku.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine
Depositing User: Nasyir Nompo
Date Deposited: 26 Sep 2026 01:10
Last Modified: 26 Sep 2026 01:10
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58022

Actions (login required)

View Item
View Item