NOER, ANNA SOFIANA (2025) PREVALENSI DETERMINAN KECACINGAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DIWILAYAH KEPULAUAN KOTA MAKASSAR. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
K012231050-id9bHD5afRZlYUCG-20250923133914.jpg
Download (111kB)
K012231050-1-2.pdf
Download (961kB)
K012231050-dp.pdf
Download (270kB)
K012231050-fulllll.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Anna Sofiana Noer. Prevalensi Determinan Kecacingan Pada Anak Usia Sekolah Dasar Diwilayah Kepulauan Kota Makassar (dibimbing Ansariadi dan Ridwan A) Latar belakang : Kecacingan yang disebabkan oleh Soil Transmitted Helminths (STH) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, terutama di daerah dengan sanitasi buruk dan pengetahuan kebersihan rendah. Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok rentan karena sering bersentuhan langsung dengan lingkungan tercemar. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor determinan kejadian kecacingan pada anak sekolah dasar di wilayah kepulauan Kota Makassar, serta mengevaluasi efektivitas pemberian Albendazole sebagai upaya pengendalian infeksi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pengambilan sampel sebanyak 100 anak usia sekolah dasar di Pulau Barranglompo dan Kodingareng. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan pemeriksaan feses menggunakan metode Kato-Katz. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi kecacingan pada anak usia sekolah dasar di wilayah kepulauan Kota Makassar, yaitu di Pulau Barrang Lompo dan Kodingareng, mencapai 65%. Berdasarkan klasifikasi WHO (2002), angka ini termasuk dalam kategori prevalensi tinggi (≥50%). Jenis cacing yang paling banyak ditemukan adalah Ascaris lumbricoides 70,77% dan Trichuris trichiura 29,23%. Faktor yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian kecacingan adalah kebiasaan mencuci tangan (p=0,021), penggunaan alas kaki (p=0,003), kebersihan kuku (p=0,005), dan kebiasaan jajan (p=0,031). Program pemberian Albendazole menunjukkan hubungan bermakna terhadap penurunan kejadian kecacingan (p=0,002). Kesimpulan: pemberian albendazole memiliki hubungan paling kuat dengan kejadian kecacingan, yang menegaskan bahwa pemberian obat pencegahan massal memiliki peran sentral dalam menurunkan angka infeksi. Namun demikian, berdasarkan observasi lapangan, tidak dilakukan tindak lanjut (follow-up) pasca pembagian obat, sehingga tidak dapat dipastikan apakah seluruh anak benar-benar mengonsumsi obat tersebut.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Kesehatan Masyarakat |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 26 Sep 2026 01:06 |
| Last Modified: | 26 Sep 2026 01:06 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/58019 |
