PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN D3 TERHADAP KADAR INTERFERON GAMMA PADA ANAK DENGAN SINDROM NEFROTIK = THE EFFECT OF VITAMIN D3 ON SERUM INTERFERON GAMMA LEVEL IN CHILDREN WITH NEPHROTIC SYNDROME


RAMADHANI, FIRA (2026) PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN D3 TERHADAP KADAR INTERFERON GAMMA PADA ANAK DENGAN SINDROM NEFROTIK = THE EFFECT OF VITAMIN D3 ON SERUM INTERFERON GAMMA LEVEL IN CHILDREN WITH NEPHROTIC SYNDROME. Sp thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR.

[thumbnail of Cover] Image (Cover)
C105212003-O5BDr2uaLFCZWVgj-20260525201002.png

Download (100kB)
[thumbnail of Bab 1-2] Text (Bab 1-2)
C105212003-1-2.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
C105212003-dp.pdf

Download (209kB)
[thumbnail of Full Teks] Text (Full Teks)
C105212003-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 2 September 2028.

Download (6MB)

Abstract (Abstrak)

Pendahuluan : Sindrom Nefrotik (SN) merupakan penyakit glomerular pediatrik yang paling umum, ditandai dengan proteinuria masif, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema. Patogenesis SN berkaitan erat dengan disregulasi sistem imun sistemik, khususnya ketidakseimbangan sel T yang melepaskan mediator sitokin untuk memodifikasi struktur podosit dan barier filtrasi glomerulus. Salah satu sitokin pro-inflamasi krusial yang terlibat adalah Interferon Gamma (IFNgamma) dari sel T-helper 1 (Th1), yang kadarnya sering ditemukan lebih tinggi pada fase aktif SN dibandingkan fase remisi. Di sisi lain, defisiensi vitamin D sangat relevan pada pasien SN karena kehilangan Vitamin D Binding Protein (VDBP) secara masif melalui urin, sementara vitamin D sendiri memiliki potensi imunomodulator melalui ikatannya dengan Vitamin D Receptor (VDR) yang dapat menghambat transkripsi gen IFN-gamma. Meskipun demikian, data mengenai efektivitas berbagai dosis suplementasi vitamin D terhadap respons imunologis pada anak dengan SN di Indonesia masih sangat terbatas. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan dosis suplementasi vitamin D3 (400 IU vs 1000 IU) terhadap perubahan kadar serum 25-hidroksivitamin D (25(OH)D) dan kadar sitokin Interferon Gamma (IFN-gamma) pada anak dengan Sindrom Nefrotik. Metode : Studi ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Double- Blind Randomized Controlled Trial (RCT). Subjek penelitian terdiri dari 59 anak dengan SN berusia 1-18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi di Makassar, Indonesia. Subjek dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok I (n=30) menerima terapi standar dan suplementasi vitamin D3 dosis 400 IU/hari, sedangkan Kelompok II (n=29) menerima terapi standar dan suplementasi vitamin D3 dosis 1000 IU/hari selama empat minggu. Kadar serum 25(OH)D diukur menggunakan metode Chemiluminescence Immune Assay, sementara kadar IFN-gamma dianalisis menggunakan metode Sandwich Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk perubahan intra-kelompok dan uji Mann-Whitney untuk perbandingan antar-kelompok dengan signifikansi p < 0,05. Hasil : Pada awal penelitian (baseline), mayoritas subjek berada dalam status defisiensi vitamin D berat dengan median kadar 8,2 ng/mL pada Kelompok I dan 10,2 ng/mL pada Kelompok II (p = 0,200). Pasca intervensi empat minggu, terjadi peningkatan signifikan kadar serum 25(OH)D pada kedua kelompok (p < 0,05), dimana Kelompok I meningkat menjadi 12,9 ng/mL dan Kelompok II menjadi 14,6 ng/mL. Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam besarnya perubahan(delta) kadar vitamin D antar kedua kelompok (p = 0,903). Dosis 1000 IU terbukti belum mampu mencapai target sufisiensi (>30 ng/mL). Terkait parameter imunologi, tidak ditemukan perubahan signifikan pada kadar IFN-gamma baik pada kelompok 400 IU (p = 0,237) maupun kelompok 1000 IU (p = 0,689). Analisis komparatif delta IFN-gamma antar kedua kelompok juga tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,324). Hal ini diduga dipengaruhi oleh masking effect dari terapi kortikosteroid dosis tinggi serta peningkatan katabolisme vitamin D oleh enzim CYP24A1 yang diinduksi steroid. Kesimpulan : Suplementasi vitamin D3 dosis 400 IU dan 1000 IU efektif meningkatkan status mikronutrien vitamin D pada anak dengan Sindrom Nefrotik, namun dosis 1000 IU belum adekuat untuk mencapai kadar sufisiensi dalam kurun waktu empat minggu. Dalam jangka pendek, intervensi ini belum mampu menghasilkan efek imunomodulasi yang signifikan terhadap kadar IFN-gamma sistemik pada pasien yang sedang dalam terapi steroid aktif. Diperlukan durasi intervensi yang lebih lama dan dosis vitamin D3 yang lebih tinggi untuk mengatasi kehilangan VDBP secara masif dan mencapai respons imunologis yang diharapkan.

Item Type: Thesis (Sp)
Uncontrolled Keywords: Anak, Interferon Gamma, Imunomodulasi, Kortikosteroid, Sindrom Nefrotik, Vitamin D3
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Kesehatan Anak
Depositing User: - Andi Anna
Date Deposited: 24 Sep 2026 02:57
Last Modified: 24 Sep 2026 02:57
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57822

Actions (login required)

View Item
View Item