HAERIL, SITI FATIMAH KHAD (2026) Erodibilitas Tanah Pada Berbagai Penggunaan Lahan Di Kecamatan Ponre Kabupaten Bone=Soil erodibility in various land uses in Ponre District, Bone Regency. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
G051211078-Hg5Cyzx4amTjwbqB-20260309142531.jpg
Download (161kB)
G051211078-1-2.pdf
Download (448kB)
G051211078-dp.pdf
Download (185kB)
G051211078-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 2028.
Download (945kB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Alih fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi pertanian intensif menyebabkan meningkatnya kerentanan tanah terhadap erosi akibat berkurangnya penggunaan lahan hutan. Berdasarkan data KPH Cenrana tahun 2024, luas kawasan hutan di Kecamatan Ponre mengalami penurunan sebesar 933,39 hektar. Penurun tersebut dapat memengaruhi karakteristik tanah dan berpotensi meningkatkan kerentanan tanah. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan tanah melalui nilai erodibilitas tanah pada berbagai penggunaan lahan di Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone. Metode. Penentuan titik penelitian dilakukan menggunakan metode toposekuen pada dua kemiringan lereng yang berbeda. Terdapat tiga toposekuen yang diberi kode TR1, TR2, dan TR3 pada lereng 25-45% dan >45%. Data diolah menggunakan metode Wischmeier dan Smith. Hasil. Nilai erodibilitas tertinggi terdapat pada pertanian lahan kering dengan kemiringan lereng 25-45% sebesar 0,64 dan pada lereng >45% sebesar 0,39, sedangkan nilai terendah dijumpai pada hutan lahan kering sekunder dengan kemiringan 25-45% sebesar 0,21. Nilai erodibilitas dipengaruhi oleh kandungan C-organik tanah, pada pertanian lahan kering dengan lereng >45% sebesar 2,4% dan pada lereng 25-45% sebesar 0,62%, sedangkan pada lahan hutan nilai C-organik sebesar 3,3%. Nilai erodibilitas tinggi ditemukan pada semak belukar dengan kemiringan 25-45% sebesar 0,54, sementara hutan lahan kering sekunder pada lereng >45% memiliki nilai 0,35. Kandungan C-organik tanah, pada semak belukar dengan lereng >45% sebesar 1,58%, sedangkan pada lahan hutan lahan kering sekunder nilai C-organik sebesar 2,63%. Pada pertanian lahan kering campur semak menunjukkan nilai erodibilitas sebesar 0,47 pada lereng >45% dan 0,36 pada lereng 25-45%. Kandungan C-organik tanah, pada pertanian lahan kering campur semak dengan lereng >45% sebesar 1,38%, sedangkan pada lereng 25-45% sebesar C-organik sebesar 1,52%. Kesimpulan. Erodibilitas tanah yang tinggi terdapat pada lahan dengan kandungan bahan organik rendah yaitu pertanian lahan kering, sedangkan erodibilitas rendah dijumpai pada lahan dengan kandungan bahan organik tinggi, yaitu hutan lahan kering sekunder. Hal ini menunjukkan bahwa bahan organik tanah menjadi faktor yang menentukan tingkat kerentanan erodibilitas tanah di Kecamatan Ponre.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tanah, Lereng, C-organik, Pertanian, Toposekuen |
| Subjects: | S Agriculture > S Agriculture (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Pertanian > Ilmu Tanah |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 22 Sep 2026 08:57 |
| Last Modified: | 22 Sep 2026 08:57 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57713 |
