ANALISIS KADAR CATHELICIDIN LL-37 PADA PENDERITA KUSTA DAN NARAKONTAK DI PULAU BONERATE, SELAYAR=ANALYSIS CATHELICIDIN LL-37 LEVEL IN LEPROSY PATIENTS AND CONTACTS ON BONERATE ISLAND, SELAYAR


MUSTAKIM, NUR HASIRA (2026) ANALISIS KADAR CATHELICIDIN LL-37 PADA PENDERITA KUSTA DAN NARAKONTAK DI PULAU BONERATE, SELAYAR=ANALYSIS CATHELICIDIN LL-37 LEVEL IN LEPROSY PATIENTS AND CONTACTS ON BONERATE ISLAND, SELAYAR. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of COVER] Image (COVER)
C115221004-KNPmvsbF4CwLaRdO-20260306093301.jpg

Download (545kB)
[thumbnail of BAB 1-2] Text (BAB 1-2)
C115221004-1-2.pdf

Download (621kB)
[thumbnail of DAPUS] Text (DAPUS)
C115221004-dp.pdf

Download (594kB)
[thumbnail of FULL TEKS] Text (FULL TEKS)
C115221004-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only until 3 February 2028.

Download (9MB)

Abstract (Abstrak)

Lepra, yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen, adalah penyakit granulomatosa terutama menyerang kulit dan saraf tepi, dan bahkan dapat menyebabkan deformitas dan kecacatan pada tahap lanjut. Jumlah kasus kusta Indonesia terbesar ketiga di dunia. Cathelicidin LL-37 memiliki fungsi antimikroba langsung serta dapat memodulasi respon imun, termasuk aktivitas fagositik makrofag, kemotaksis sel imun, serta regulasi sitokin inflamasi. PCR kuantitatif (qPCR) telah terbukti memiliki sensitivitas tinggi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar Cathelicidin LL-37 dan hasil deteksi Mycobacterium leprae menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) terhadap status subjek sebagai pasien kusta atau narakontak, serta mengevaluasi keterkaitan antara kadar Cathelicidin dan hasil PCR dalam konteks paparan penyakit kusta. Metode: Penelitian ini dilakukan studi analitik observasional dengan desain cross- sectional di Pulau Bonerate dan Laboratorium HUMRC Universitas Hasanuddin. Subjek yang terlibat berjumlah 75 orang, meliputi 20 pasien kusta dan 55 narakontak, yang direkrut secara consecutive sampling. Untuk menganalisis data, digunakan uji Mann–Whitney, Chi-square atau Fisher’s Exact Test, serta analisis ROC untuk menentukan nilai cut-off yang relevan. Hasil: Kadar Cathelicidin LL-37 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pasien kusta dan narakontak (p = 0,408). Namun, dengan menggunakan titik potong 32,44 ng/mL, ditemukan hubungan yang signifikan dengan status pasien (p = 0,028), dengan rasio peluang (odds ratio) sebesar 5,78. Pada kelompok yang baru didiagnosis, 58,33% memiliki kadar LL-37 ≤32,44 ng/mL, sementara 100% pada kelompok pengobatan memiliki kadar LL-37 ≤32,44 ng/mL (p = 0,035). Pemeriksaan PCR juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status pasien (p = 0,019), dengan hasil PCR positif lebih sering ditemukan pada pasien kusta. Dan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara kadar LL-37 dan status PCR (p = 0.097). Kesimpulan: Meskipun kadar Cathelicidin LL-37 tidak dapat membedakan secara signifikan antara pasien kusta dan narakontak, hubungan signifikan ditemukan dengan titik potong 32,44 ng/mL. Kadar LL-37 lebih tinggi pada pasien yang baru didiagnosis, yang menunjukkan kaitannya dengan perkembangan penyakit. Biomarker dapat berpotensi untuk memantau perkembangan penyakit.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: Cathelicidin LL-37, Kusta, M.Leprae, Narakontak, PCR
Subjects: R Medicine > RL Dermatology
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Depositing User: Unnamed user with username pkl2
Date Deposited: 21 Aug 2026 07:09
Last Modified: 21 Aug 2026 07:09
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/57129

Actions (login required)

View Item
View Item