RAMADHAN, MUHAMMAD HUSAIN (2026) Penanganan Ruptured Bladder Pada Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) Dengan Prosedur Cystotomy dan Perinneal Urethrostomy Di Klinik Hewan Jogjakarta=Management of Ruptured Bladder in Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) Using Cystotomy and Perineal Urethrostomy Procedures at Jogjakarta Veterinary Clinic. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
C024241009-prAjItz0bkBKqoCn-20260307051011.jpg
Download (208kB)
C024241009-1-2.pdf
Download (855kB)
C024241009-dp.pdf
Download (540kB)
C024241009-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 20 January 2028.
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) merupakan sindrom klinis yang sering terjadi pada kucing, dengan feline idiopathic cystitis (FIC) sebagai penyebab paling dominan. FIC yang bersifat rekuren dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti obstruksi uretra, ruptur vesica urinaria, dan uroabdomen yang mengancam jiwa. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran klinis, hasil pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis, serta penanganan ruptured bladder pada kucing dengan FLUTD melalui prosedur cystotomy dan perineal urethrostomy. Kasus dilaporkan pada seekor kucing persia jantan non-steril berumur 1 tahun 10 bulan bernama Coffee, dengan riwayat FLUTD berulang, menunjukkan gejala periuria, hematuria, disuria, letargi, dan demam. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan akumulasi cairan bebas di rongga abdomen dan batas vesica urinaria yang tidak jelas, mengindikasikan ruptured bladder dan uroabdomen. Pemeriksaan hematologi mengungkapkan leukositosis berat disertai trombositopenia, yang mengarah pada inflamasi sistemik dan infeksi bakteri sekunder. Penanganan dilakukan melalui tindakan cystotomy untuk membersihkan lumen vesica urinaria, memperbaiki ruptur, serta perineal urethrostomy untuk mencegah obstruksi uretra berulang. Terapi meliputi ampicillin intravena, gabapentin, tramadol, vitamin K, sodium bicarbonate, methampyrone–diphenhydramine, hematodin, dan albumin sebagai terapi suportif. Meskipun telah dilakukan intervensi bedah dan terapi intensif, kondisi pasien terus memburuk akibat peritonitis urinosa, gangguan elektrolit, dan dugaan sepsis yang berujung pada kematian. Kasus ini menunjukkan bahwa FIC rekuren dapat berkembang cepat menjadi kondisi fatal apabila tidak ditangani secara optimal. Deteksi dini, penanganan agresif, serta manajemen lingkungan dan stres jangka panjang sangat penting untuk menurunkan risiko morbiditas dan mortalitas pada kucing dengan FLUTD.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Feline Idiopathic Cystitis, FLUTD, Ruptured Bladder, Uroabdomen, Cystotomy, Perinneal Urethrostomy |
| Subjects: | S Agriculture > SF Animal culture |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > Profesi Dokter Hewan |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 13 Aug 2026 06:13 |
| Last Modified: | 13 Aug 2026 06:13 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/56937 |
