Monitoring Udang Windu (Penaeus monodon) untuk Keperluan Ekspor di Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan = Monitoring of Tiger Shrimp (Penaeus monodon) for Export Purposes at the Animal, Fish, and Plant Quarantine Center of South Sulawesi


HARTANTI, A. PARADIBA NABILA (2026) Monitoring Udang Windu (Penaeus monodon) untuk Keperluan Ekspor di Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan = Monitoring of Tiger Shrimp (Penaeus monodon) for Export Purposes at the Animal, Fish, and Plant Quarantine Center of South Sulawesi. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of COVER]
Preview
Image (COVER)
C024241047-SYe9P1w4vAoNiUg2-20260122212738.png

Download (158kB) | Preview
[thumbnail of BAB 1-2] Text (BAB 1-2)
C024241047-1-2.pdf

Download (64kB)
[thumbnail of DAPUS] Text (DAPUS)
C024241047-dp.pdf

Download (132kB)
[thumbnail of FULL TEXT] Text (FULL TEXT)
C024241047-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 15 January 2028.

Download (1MB)

Abstract (Abstrak)

Monitoring kesehatan udang windu (P. monodon) sebagai komoditas ekspor dilakukan secara rutin di Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan. Indonesia memiliki peran penting sebagai eksportir udang, sehingga komoditas yang diekspor wajib bebas dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK), termasuk Infectious Hypodermal and Haematopoietic Necrosis Virus (IHHNV). Monitoring dilakukan dengan pengambilan sampel udang windu dari Kabupaten Sinjai. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara bertahap, mencakup pemeriksaan organoleptik atau makroskopik, uji PCR menggunakan KIT IQ2000™, dan pemeriksaan histopatologi jaringan. Hasil pemeriksaan makroskopis menunjukkan udang memiliki panjang 16–18 cm dengan berat 49 gram, disertai pertumbuhan yang tidak seragam dalam satu tambak, yang menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan pada udang budidaya. Pemeriksaan PCR mengonfirmasi bahwa sampel udang windu (kode A.a.I) positif IHHNV, ditandai dengan pita DNA pada marker 333 bp dan 630 bp, sejajar dengan kontrol positif. Pemeriksaan histopatologi pada pembesaran 100× menunjukkan perubahan jaringan berupa fusion dan udema pada insang, vakuolasi pada hepatopankreas, serta nekrosis pada usus, yang memperkuat diagnosis infeksi IHHNV. Monitoring laboratorium menjadi dasar penting dalam penetapan keputusan karantina, evaluasi mutu ekspor, dan upaya pencegahan penyakit berulang pada rantai ekspor udang.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Ekspor, Histopatologi, IHHNV, Karantina, PCR, Udang Windu
Subjects: S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > Profesi Dokter Hewan
Depositing User: Unnamed user with username pkl2
Date Deposited: 23 Jun 2026 01:35
Last Modified: 23 Jun 2026 01:35
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/56164

Actions (login required)

View Item
View Item